Agung Aji masih menganut paham yang memiliki banyak istri. Hal itu menandakan besarnya pengaruh dan kekayaan yang dimilikinya. Dengan uang dan harta serta janji yang memabukkan hati para perempuan, para bangsawan tua, seperti Agung Aji menjerat hati para perempuan desa yang akan dengan senang hati menerima permintaannya, termasuk menjadi istri kesekian dari bangsawan tua itu. Padahal, apa yang dilakukan oleh Agung Aji dan kebanyakan kaum bangsawan sangat melecehkan dan merendahkan martabat kaum perempuan. Mereka dijadikan mainan yang bisa dengan seenaknya dibuang, jika sudah tidak dibutuhkan lagi. Banyak perempuan muda yang menjadi korban tradisi yang sangat merendahkan perempuan itu. Hanya segelintir perempuan yang tidak bersedia menyerahkan kehidupannya untuk kesenangan kaum bangsawan itu, termasuk Putri.
Agung Aji kali ini kena batunya. Keinginannya untuk segera menjadikan Putri sebagai istri mudanya kandas setelah Putri menolak dengan tegas lamaran yang diajukannya. Bahkan, motor yang menurutnya bisa menggugah Putri pun, tidak dapat mempengaruhi gadis itu. Ternyata, tidak semua perempuan tergoda dengan kekayaan dan kedudukan yang dijanjikannya. Akan tetapi, bangsawan tua itu memang pantang menyerah. Sampai menjelang ajalnya pun, ia maih tetap menyampaikan maksudnya untuk memperistri Putri walaupun ia tahu dengan pasti, Putri pasti akan menolaknya. Sikap angkuh warisan feodal masih melekat erat dalam dirinya sehingga ia tidak rela, jika ada seseorang yang menolak keinginannya, apalagi penolakan itu datang dari seorang perempuan.
3.1.2.5 Sadra
Sadra adalah saudara sepupu Putri. Ayah mereka sama-sama dilahirkan oleh seorang ibu, yaitu nenek Putri, Namun, hubungan dua keluarga itu sangat tidak harmonis. Ada dendam masa lalu yang membuat dua keluarga itu tidak pernah damai. Kondisi itu mempengaruhi juga pola hubungan antara Putri dan kakak sepupunya itu. Walaupun kedua orang tua mereka tidak berbaikan, tetapi Sadra dan Putri tetap saling bertegur sapa.
Sadra sangat bangga dengan keberhasilan yang telah diraih Putri. Ia sangat mengagumi semangat Putri untuk menyelesaikan pendidikannya dan kemudian meraih gelar sarjana. Kebanggaan keluarga Mangku Puseh adalah kebanggaannya juga. Akan tetapi, perasaan itu tidak dapat diperlihatkannya secara terbuka karena ia tidak ingin ayahnya mengetahui bahwa ia sangat mengagumi Putri.
72