Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/83

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

dihadapinya mendapatkan makna berbeda. (Wijaya, 2004: 65).

Oka yang berpikiran bebas memandang segala persoalan dari sudut pandang yang terbuka. Ia sangat menghargai segala bentuk tindakan yang didasari oleh pikiran yang matang dan tegas, apalagi jika hal tersebut datang dari seorang perempuan. Ketika Putri dengan tegas menolak tawarannya untuk menjadi wartawan hanya karena ia perempuan, Oka semakin mengagumi sosok perempuan seperti Putri, idealis dan tidak mau dilecehkan, Padahal, ia yakin sekali Putri sangat membutuhkan pekerjaan itu. Daripada mengorbankan idealismenya dan memberi peluang bagi orang lain, terutama laki-laki untuk melecehkannya, lebih baik ia menolak tawaran tersebut Walaupun pada kenyataannya ia sangat membutuhkan pekerjaan itu. Ketegasan Putri dan idealismenya membuat Oka semakin kagum Pada sosok perempuan itu.

Oka yang modern dan bebas juga memandang bahwa setiap Perempuan, apalagi seorang perempuan dewasa, bebas mengekspresikan dirinya. Seorang perempuan dewasa memiliki kebebasan untuk memutuskan yang terbaik untuk dirinya, termasuk dalam menyikapi persoalan seks. Menurutnya, sah-sah saja bagi Seorang perempuan dewasa untuk mengekspresikan keinginan sekualnya, apalagi jika hal itu dilakukan dengan orang yang dicintai. Akan tetapi, ia akan sangat menentang, jika seorang perempuan dilecehkan dalam kaitannya dengan persolan seks. Hal itu terlihat ketika Oka mengetahui Putri yang diperlakukan tidak senonoh oleh Seorang laki-laki di sebuah hotel. Ia sangat marah ketika mengatahui Putri hanya mendiamkan persoalan tersebut. Hal itu adalah pelecehan terhadap Putri dan juga terhadap seluruh perempuan. Oka sangat membenci segala bentuk pelecehan, apalagi pelecehan seksual yang terjadi pada diri perempuan.

3.1.2.4 Agung Aji

Agung Aji adalah bangsawan tua yang masih tetap ingin hidup di alam feodalisme, seperti yang telah dilewati para pendahulunya. Padahal, dalam kenyataannya, kekuasaan kaum bangsawan tidak lagi seperkasa dulu. Mungkin dulu apa yang menjadi keinginan putri, tempat para bangsawan tinggal, akan selalu menjadi kenyataan karena penduduk desa akan dengan senang hati melayani segala kebutuhan dan permintaan putri. Akan tetapi, kebiasaan itu sudah tidak tepat lagi untuk diterapkan hari ini, apalagi menyangkut perlkuan para bangsawan terhadap perempuan

71