Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/79

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

3.1.2.2 Ngurah Agung Wikan

Sebagai penerus keturunan Puri Tabanan, Ngurah Agung Wikan memiliki sifat dan perilaku yang sangat berbeda dari kebanyakan kaum bangsawan. Pendidikan di luar negeri dan pengaruh kemajuan zaman telah mencetaknya menjadi pribadi yang jauh dari kesan feodalisme. Posisi kaum bangsawan puri yang sudah tidak Seberkuasa dulu lagi juga menjadi salah satu sebab yang mempengaruhi pribadi Wikan. Ia adalah pemuda masa kini, yang tidak lagi terobsesi untuk menikmati enaknya hidup sebagai bangsawan puri. Malah, ia ingin melepaskan gelar kebangsawanannya dan menjadi manusia biasa karena tidak mau lagi dibebami dengan tradisi dan kebiasaan puri yang Menurutnya sudah tidak cocok lagi diterapkan hari ini.

Sikap dan pikiran Wikan juga mempengaruhi pandangannya terhadap perempuan. Pengalamannya bergaul dengan perempuan Barat sedikit banyaknya telah mempengaruhi pandangannya tentang Perempuan. Menurutnya, perempuan harus bisa menentukan nasibnya Sendiri, Walaupun ia terbiasa hidup di puri dan dilayani layaknya Seorang pangeran, ia tetap menghormati para penyeroan, yang umumnya perempuan. Wikan menganggap para pembantunya itu Sebagai bagian dari keluarganya yang harus dihormati dan dihargai Sebagai manusia.

Ia pun tidak menyetujui kebiasaan para bangsawan puri yang menikahi lebih dari seorang perempuan.Jika istri yang satu sudah tidak dibutuhkan lagi atau sudah tidak mendatangkan kenikmatan lagi, dengan mudahnya para bangsawan itu mencampakkan perempuan itu. Wikan menganggapnya sebagai sebuah bentuk pelecehan terhadap Perempuan dan sangat tidak menyetujuinya, termasuk tidak menyukai keinginan ayahnya untuk mengambil Putri sebagai istri ketiga. Akan tetapi, sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada orang tua yang telah membesarkan dan mendidiknya, Wikan tidak sanggup menyampaikan ketidaksetujuannya itu kepada ayahnya. Selain itu, ia tahu dengan pasti bahwa Putri tidak akan menerima lamaran ayahnya dan mengenal Putri sejak gadis itu menjadi penyeroan di Puri Tabanan. Wikan sangat mengenal watak Putri yang tidak ingin dikekang oleh adat dan tradisi yang tidak menguntungkan kaum perempuan. Wikan sangat mengagumi pribadi Putri. Ia melihat gadis itu Memiliki kelebihan, apabila dibandingkan dengan perempuan yang Pernah dikenalnya. Pergaulannya dengan gadis manca negara tidak mengurangi rasa kagumnya terhadap Putri karena Putri memang istimewa, Menurutnya, siapa saja yang mengenal Putri pasti akan berpendapat seperti yang 1a pikirkan. Setiap kali Wikan berada di dekat

67