Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/78

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Perempuan bukan makhluk yang lemah. Oleh sebab itulah, hidup akan menjadi tidak lengkap dan berarti, jika tidak ada perempuan. Laki-laki yang hanya mengandalkan otot dan kekuatan tubuhnya tidak akan mampu bertahan dalam hidup tanpa sokongan dan dukungan perempuan Bali yang perkasa. Hanya saja, saat ini banyak perempuan yang tidak menyadari keperkasaan mereka. Mereka terkecoh karena terlalu dimulia-muliakan hingga akhirnya kembali menjadi lemah dan tidak berdaya. Padahal, dalam diri seorang perempuan, sejak mereka lahir, mereka adalah makhluk yang kuat dan siap menghadapi segala tantangan hidup yang terbentang di depan mereka.

Mangku Puseh memang sangat terbuka terhadap setiap persoalan yang timbul dalam kehidupan keluarganya dan arif bijaksana dalam menyikapinya. Ia sangat mengagumi perempuan, seperti istrinya dan Putri, anaknya. Dua sosok perempuan itu sama-sama memiliki cita-cita, tetapi berbeda cara dalam mewujudkannya, sama-sama keras, tetapi menyimpan kelembutan yang membekali mereka dalam menghadapi kehidupan. Mangku Puseh merasakan ada dua kekuatan yang telah membentengi rumah tangganya. Untuk itulah, ia menyuruh Putri agar segera melamar Ngurah Agung Wikan karena menurutnya sudah sangat tepat, jika Putri memintanya untuk dibawa ke Meliling. Seorang perempuan tidak boleh malu-malu untuk menunjukkan keinginannya. Jangan hanya karena malu, menghalangi seseorang, terutama kaum perempuan, untuk menyampaikan keinginannya. Malu dibuat agar kita mempertimbangkan masak-masak perbuatan yang akan dilakukan, agar menjadi yakin dan berani, bukan untuk menghalangi seseorang untuk berbuat atau bahkan membatalkan.

Perempuan tidak selamanya harus menunggu. Jika inisiatif itu tidak pernah datang dari laki-laki karena kelemahannya, perempuanlah yang harusnya berinisiatif. Kalau laki-laki tidak mampu, perempuan harus menggantikan. Akan tetapi, dalam merawat orang yang lemah itu, jangan sekali-kali menunjukkan kekuatan karena nantinya yang lemah itu akan semakin lemah jadinya. Kelemahan harus dihormati dan suatu saat dengan penghormatan yang diberikan, yang lemah akan tumbuh menjadi sesuatu yang perkasa. Itulah nasihat terakhir Mangku Puseh terhadap Putri dan juga terhadap perempuan Bali sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir.

66