Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/75

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Nyoman membaca buku harian itu adalah bapaknya sendiri, Mangku Puseh. Putri yang pada awalnya marah kemudian berbalik menjadi semakin mengagumi ayahnya. Mangku Puseh ternyata lebih arif dan bijaksana walaupun tidak pernah mengecap pendidikan tinggi. Begitu mendengarkan alasan bapaknya, Putri menjadi semakin mengagumi sosok laki-laki tua itu. Kebiasaan yang menurut Putri sesuai dengan tingkat pemikirannya, ternyata dipandang dari sudut yang sangat bijak oleh Mangku Puseh. Ia berpandangan, mengapa harus menuliskan isi hati dan pikiran, jika kita masih memiliki orang-orang terdekat yang bisa diajak berbicara dan mendengarkan keluh kesah dan pikiran kita.

“Sebelum Luh marah lagi,” katanya dengan suara yang begitu polos sehingga seluruh tubuh Putri remuk “Luh jangan salah terima. Jangan menuliskan perasaan-perasaanmu di dalam buku. Jangan disimpan di situ. Luh masih punya Meme, punya Dadong dan punya Bapa yang masih sehat. Masih diberi hidup. Katakan saja semuanya. Mungkin Bapa tidak mengerti semuanya, tapi biarkan Bapa ikut mendengarnya. Mungkin setelah kita dengarkan bersama, semuanya akan berubah. Jadi, Luh, jangan menyimpan, itu bukan kebiasaan kita. Katakan saja apa adanya. Sekarang Luh paham. Kalau mau marah, marah saja sekarang. Bapa akan mendengarkan.” (Wijaya, 2004: 178).

Kenyataan seperti yang diuraikan itu menunjukkan betapa bijaksananya seorang Mangku Puseh. Pandangan arif dan bijaksananya telah mempengaruhi pribadi Putri sebagai seorang perempuan, apalagi perempuan terpelajar yang memiliki pikiran maju. Putri jadi semakin yakin bahwa apa yang dipelajarinya di kampus dan dari buku masih sangat sedikit. Mangku Puseh dengan usia dan pengalamannya adalah sebuah buku besar tempat ia bisa belajar. Mangku Puseh telah menyadarkan Putri bahwa pendidikan yang diperoleh secara formal belum tentu menjamin seseorang akan memiliki pandangan yang luas, jika dibandingkan dengan mereka yang hanya memperoleh pendidikan dari alam. Alam ternyata telah mengajarkan manusia untuk bersikap bijak dalam menyikapi kehidupannya. Hal itu terasah oleh waktu, bukan oleh pendidikan formal dan bacaan yang luas.

Alam adalah lautan luas ilmu yang takkan pernah habis-habisnya. Jadi, seseorang yang telah mengecap pendidikan yang cukup

63