Di balik kediaman dan keluguannya sebagai seorang perempuan yang berjuang untuk keluarganya, Men Putri sebenarnya menyimpan cita-cita besar untuk memajukan dirinya. Hanya karena kondisi yang tidak memungkinkan, dia harus mengubur impiannya itu dalam-dalam. Akan tetapi, ia masih menyimpan segunung harapan terhadap anak-anaknya, terutama Putri. Lewat sosok anak-anaknyalah, ia akan mewujudkan cita-citanya untuk berpendidikan tinggi kesampaian. Untuk itu, ia selalu melarang Putri cepat-cepat menikah.
Ia selalu bertentangan dengan suaminya, Mangku Puseh, soal pernikahan Putri. Di satu sisi, Mangku Puseh menginginkan Putri cepat berumah tangga setelah menamatkan pendidikannya. Di sisi yang lain, Men Putri memiliki keinginan yang berbeda. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, jika akhirnya hanya akan terdampar di kehidupan perkawinan yang terkadang tidak mengenakkan. Putri harus mencapai cita-citanya dulu, bekerja sesuai dengan keinginannya, setelah itu baru memikirkan untuk berumah tangga.
Menarik sekali, jika kita mengamati sikap Men Putri tersebut. Sebagai seorang perempuan yang menjalani kehidupannya secara tradisional, ternyata ia menyimpan cita-cita luhur, seperti apa yang dicita-citakan oleh kaum feminis, yaitu kemajuan perempuan. Posisinya yang terpuruk dalam himpitan tradisi dan budaya yang menomorduakan perempuan tidak menyurutkan semangatnya untuk memajukan diri anak-anaknya. Untuk mewujudkan impiannya itu, ia rela bekerja keras, jungkir balik mencari uang untuk menyekolahkan Putri dan ia berhasil mengantarkan Putri menjadi sarjana, seperti apa yang dicita-citakannya.
Perempuan seperti Men Putri itulah yang sebenarnya berhak menyandang predikat sebagai seorang pahlawan sejati. Tanpa kehadiran perempuan seperti itu, tidak akan muncul bibit baru, seperti Putri, yang nantinya akan mendongkrak segala bentuk penindasan dan pelecehan terhadap perempuan. Dari perempuan seperti Men Putri itulah, lahir perempuan perkasa yang tidak menjadi terpuruk karena kondisi yang sama sekali tidak memihak kepada mereka. Perempuan seperti Men Putri tidak akan kehilangan cita-citanya akibat penindasan yang sudah mendarah daging. Perempuan seperti itu tanpa sadar dan sengaja telah melakukan perjuangan kaum feminis. Jika bukan mereka yang menikmati, mungkin nanti anak cucu mereka yang akan menuai hasil pengorbanan dan jerih payah mereka.