Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/68

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Putri membasuh tangan dan kemudian mulai makan. Ibunya duduk di depannya memandangi, seperti menghitung berapa suap akan ditelan Putri. Putri diam-diam mencuri melihat beberapa garis muka ibunya semakin dalam. Rambut putihnya juga sudah mulai bertambah. Bagaimana tidak. Wanita inilah yang sudah banting tulang untuknya. Bapaknya tak banyak bisa diharapkan. Mangku itu terlalu sibuk melayani upacara untuk kepentingan desa (Wijaya, 2004: 6).

Mungkin bagi kaum feminis Men Putri telah melakukan dua fungsinya sekaligus. Ia bukan hanya sebagai seorang ibu rumah tangga, melainkan juga pencari nafkah keluarga. Sekilas terlihat Men Putri telah mendukung gerakan feminis. Akan tetapi, jika ditinjau lebih jauh, peran yang dimainkan oleh Men Putri adalah dampak dari budaya yang mengharuskan perempuan untuk bekerja keras. Ia bukan saja sebagai ibu rumah tangga, melainkan juga sebagai pencari nafkah keluarga. Perempuan seperti Men Putri dan banyak lagi perempuan Bali cenderung mengalami eksploitasi besar-besaran. Dampak dari budaya ini adalah melahirkan perempuan perkasa, yang sanggup melakukan segala bentuk pekerjaan. Bahkan, pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang laki-laki pun mereka jalani. Mungkin kaum feminis tidak akan menyetujui bentuk eksploitasi seperti itu. Perempuan bukan lagi melakukan peran ganda, tetapi lebih sebagai bentuk kesewenang-wenangan laki-laki terhadap perempuan. Kaum feminis akan sangat menentang tindakan tersebut.

Sebagai seorang ibu, Men Putri adalah ibu yang penuh kasih dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada keluarga. Sebagai perempuan yang memainkan peran tradisionalnya, ia terbiasa melayani, begitu juga terhadap anak-anaknya. Merupakan kebanggaan bagi seorang ibu, jika bisa melayani suami dan anak-anaknya dengan baik. Hal yang terkadang tidak bisa dimengerti oleh Putri, tetapi harus diterimanya sebagai suatu kenyataan.

...Ketika ia menoleh, ibunya sudah pergi ke dapur hendak memasak air. Putri hampir saja mau melarang, tetapi kemudian ia tak sampai hati. Itu merupakan kebanggaan seorang ibu. Ia sudah belajar menghargai hal-hal yang tak masuk akal, setelah gagal untuk memusnahkannya (Wijaya, 2004: 3).

56