Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/67

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

pikiran yang salah itu. Ya kan Ngurah?” (Wijaya, 2004:317)

Nelly memang berbeda dengan Putri. Walaupun sama-sama pintar, sama-sama cantik, dan sama-sama memiliki keinginan untuk maju, latar belakang kehidupan mereka yang berbeda membuat keduanya tumbuh menjadi dua sosok perempuan yang berseberangan. Di mata Putri, Nelly adalah orang yang tidak pernah mau kalah. la adalah perempuan yang penuh dengan ambisi, sementara Putri terbiasa untuk selalu mengalah dan tidak memiliki ambisi, seperti apa yang dipunyai Nelly.

Nelly adalah Nelly dengan segala keakuannya. Ia tidak akan menerima, jika orang lain sombong di hadapannya. Akan tetapi, jika yang sombong itu adalah dirinya sendiri, ia akan menganggapnya sebagai suatu kewajaran. Warisan feodalisme dan kekuasaan Palakarma, ayahnya, mungkin menjadikan Nelly berkembang menjadi pribadi seperti itu. Apa yang menjadi keinginannya harus selalu dituruti. Apa yang ada di sekitarnya dianggap sebagai haknya, sudah menjadi miliknya. Berbeda dengan Putri, yang mendapatkan semuanya dengan perjuangan yang panjang.

3.1.1.3 Men Putri

Men Putri adalah tipe perempuan tradisional yang memegang teguh fungsinya sebagai seorang perempuan dalam budaya Bali, yang menempatkannya sedemikian rupa dengan tugas dan fungsi yang melekat pada dirinya. Ia adalah perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupan untuk suami dan keluarganya. Tipe perempuan seperti itu menurut kaum feminis adalah tipe perempuan tradisional yang selalu akan menjaga peran dan fungsinya sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Sebagai seorang perempuan yang hidup dalam budaya yang lebih menguntungkan laki-laki. Men Putri adalah tipe pekerja keras. Di satu sisi ia adalah tipe perempuan tradisional, menjadi istri dan ibu, tetapi di sisi lain ia adalah makhluk serba bisa. Menjadi istri Seorang pemangku mengharuskannya memainkan dua fungsi sekaligus. Di waktu yang bersamaan, ia harus melayani suami dan anak-anaknya, sekaligus menafkahi mereka. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Mangku Puseh, suaminya. Hari-harinya banyak dihabiskan di pura dan mengabdi pada kepentingan masyarakat. Kenyataan itu mengharuskan Men Putri untuk berperan ganda.

55