Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/66

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

gelombang perubahan yang demikian cepat melanda. Bali saat ini tidak saja membutuhkan perempuan seperti Putri, tetapi juga seperti Nelly.

“Oka tergila-gila sama kamu Putri!” protes Nelly kemudian. “Tetapi kenapa dia menginjak profile-ku untuk bisa menggapai kamu. Ini pelanggaran yang keji kepada hak asasiku sebagai wanita. Lelaki memang selalu mau seenak perutnya sendiri. Ini yang harus dikikis dari laki-laki Bali!” (Wijaya, 2004: 77).

Seperti juga halnya Putri, Nelly juga sering mempertanyakan perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Mungkin cara penyampaiannya saja yang berbeda karena mereka muncul dari dua lingkungan yang berbeda. Nelly lebih meledak-ledak dalam menyampaikan pikirannya, sedangkan Putri terlihat matang. Ia selalu mempertimbangkan apa yang akan dikatakannya, buah pengalamannya selama menjadi penyeroun. Ia selalu menunggu, membiarkan orang mengungkapkan pikirannya. Kenyataan itu mempengaruhi mereka dalam menguraikan pikiran, termasuk dalam mempertanyakan persoalan perempuan.

Nelly dengan tegas menolak perbedaan laki-laki dan perempuan. Mengapa harus ada perbedaan. Mengapa laki-laki boleh dengan bebas menentukan pilihannya, sementara perempuan tidak. Pada prinsipnya mereka adalah sama, sama~-sama manusia yang diberi hak dan kewajiban yang tidak jauh berbeda. Dengan tegas, ia akan memperjuangkan hak-haknya sebagai seorang perempuan. Nelly merupakan lambang wanita modern yang tumbuh di lingkungan modern, dengan cara berpikir yang modern juga, yang mempertanyakan ketimpangan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan.

..."Putri itu kan sudah dewasa. Dia berhak dong menentukan sikapnya dan memilih siapa atau apa yang mau dia lakukan. Kenapa hanya laki-laki, kenapa perempuan tidak boleh menentukan pilihannya? Apa beda laki-aki dan perempuan? Coba mengapa bukan laki-laki yang menulis buku Tradisi Baru? Putri tidak melakukan kesalahan apa-apa. Dia mau saina Oka, dia mau sama Goenawan, atau dia mau sama kamu juga Ngurah, bahkan kalau dia mau semuanya, apa salahnya? Salah kalian yang tidak mau dong! Tapi karena dunia ini milik laki-laki, tetap perempuan yang salah. Tapi aku tetap saja akan memperjuangkan, yang salah adalah

54