Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/64

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

Ia adalah simbol perempuan Bali modern yang pintar dan memiliki ambisi yang besar untuk kepentingan dirinya. Dilihat dari sudut feminisme, mungkin sosok Nelly merupakan sosok yang diidamkan setiap perempuan, kaya, cantik, pintar, ambisius, dan memiliki semuanya. Apa pun yang dia inginkan pasti akan terwujud karena semua akan dengan senang hati mewujudkannya. Nelly adalah perempuan modern yang tidak lagi terkungkung oleh adat dan tradisi yang mengekang gerak langkah hidupnya. Berbeda dengan Putri yang harus berjuang keras untuk kehidupannya, Nelly dengan mudah mendapatkannya karena ia memiliki segalanya, terutama uang.

Pandangannya yang terobsesi dengan uang mempengaruhi pola pikirnya tentang perempuan, terutama perempuan Bali yang masih hidup dalam budaya tradisional, yang menurutnya sudah tidak cocok lagi diterapkan hari ini. Menurut Nelly, jika perempuan Bali ingin maju dan mendapatkan sesuatu seperti apa yang ia dapatkan, terutama uang, mereka harus bisa mengubah seluruh apa yang ada dalam dirinya secara total. Bukan hanya rambut yang harus dipotong, melainkan juga seluruh kebiasaan yang dianggap tidak perlu harus dibuang. Hidup secara sederhana juga harus ditinggalkan karena untuk apa harus hidup sederhana, jika kita mampu hidup lebih daripada sebelumnya. Jika perempuan memiliki modal secara fisik untuk memperbaiki kehidupannya, mengapa tidak digunakan modal itu. Kecantikan bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk dieksploitasi hingga setiap orang bisa menikmati kecantikan itu.

Perempuan tidak harus malu dengan kecantikannya. Seharusnya mereka bangga dengan karunia yang diberikan. Berpenampilan sedikit seksi pun tidak menjadi masalah. Memberi peluang bagi orang lain untuk sedikit menikmati karunia itu juga bukan sesuatu yang salah, setidaknya mengagumi dan menikmatinya dari jauh tanpa harus menyentuh karena Nelly meyakini bahwa keindahan itu bukan hanya milik pribadi perempuan itu. Seks bukan sesuatu yang kotor, tetapi pikiran manusia yang kotorlah yang telah menjadikannya kotor.

Perempuan harus mampu mereposisi dan mereformasi diri. Saat mereka memiliki modal ijazah untuk bekerja, jangan malu mengatakan bahwa mereka bekerja untuk uang, bukan alasan lain, seperti berkarya, mengabdi, atau tetek bengek lainnya. Bekerja untuk uang bukan sebuah alasan yang jelek karena tidak dapat dimungkiri bahwa saat ini uang memegang peranan penting untuk maju. Setiap manusia membutuhkan uang. Begitu juga dengan Putri, yang menurut Nelly sangat membutuhkan uang untuk kehidupannya. Putri

52