struktur sosial mendorongnya untuk mempertanyakan hal itu, mempertanyakan sesuatu yang mungkin saja sudah diterima baik oleh laki-laki dalam kehidupan ini.
Perjuangan Putri dalam menjaga martabat kaum perempuan, seperti apa yang ditawarkan oleh pandangan feminis, yang menginginkan perempuan sendiri harus mulai memberikan pesan penolakan secara tegas kepada mereka yang melakukan kekerasan dan pelecehan agar tindakan tersebut terhenti, terlihat ketika Putri tidak mau meminjamkan uang kepada Sin Hwa. Ia tahu dengan pasti bahwa uang itu akan digunakan untuk menikah lagi. Putri tidak mau menjadi penolong bagi orang yang akan menjerumuskan keluarganya ke dalam jurang penderitaan. Dengan meminjamkan uang kepada Sin Hwa, sama artinya ia mendukung tindakan tersebut. Padahal, jelas-jelas, ia sangat menentang praktik poligami tersebut.
Keprihatinan Putri semakin bertambah karena ternyata keinginan Sin Hwa menikah lagi diketahui dengan pasti oleh istrinya. Hal itu diketahuinya ketika Bu Sin datang untuk meminjam uang kepada Putri. Putri yang pada awalnya sudah menolak pinjaman suaminya karena mengetahui dengan pasti kegunaan uang itu, heran dengan kedatangan Bu Sin. Ia sangat yakin kedatangan wanita itu atas suruhan suaminya. Putri dengan tegas memberitahukan bahwa uang yang dipinjam itu akan digunakan untuk kawin lagi. Ternyata, Bu Sin sudah mengetahuinya. Ia ikhlas suaminya menikah lagi.
Putri tidak habis pikir dengan sikap perempuan yang seperti itu. Bagaimana mungkin seorang perempuan merelakan suaminya untuk perempuan lain. Apakah itu memang datang dari kebesaran jiwa si perempuan atau karena adanya paksaan atau penindasan dari laki-laki? Keterpaksaanlah yang menurut Putri lebih mendorong seorang perempuan mengizinkan suaminya menikah lagi. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan (apakah benar kebahagiaan?) rumah tangganya. Putri sangat menganggumi perempuan yang bisa bersikap seperti itu.
Putri tak sanggup lagi mendengar. la tidak bisa membayangkan ada wanita membiarkan begitu saja wanita lain merebut suaminya. Kalau itu adalah kebesaran jiwa, itu kebesaran yang sesat. Pasti karena kepintaran menipu laki-laki. Bu Sin merasakan apa yang bergolak dalam pikiran Putri. (Wijaya, 2004: 34).
Persoalan itu menjadi semakin berkembang ketika kemudian Putri mengetahui bahwa di balik kerelaan itu, ada suatu