Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/57

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

porsinya. Hanya karena istrinya membiarkan saja apa yang diperbuatnya di luar rumah, tidak berarti istrinya setuju dengan tindakan tersebut. Sewaktu-waktu perempuan yang kelihatannya lemah bisa berubah menjadi macan yang akan menghancurkan kehidupan laki-laki. Siapa pun dia, baik laki-laki maupun perempuan, jika haknya ditindas terus-menerus akan melakukan perlawanan. Sebagai manusia yang tidak luput dari kekurangan, kesabaran itu tentu ada batasnya. Itulah yang ingin diyakinkan Putri kepada Nyoman dan suaminya.

Bicarakan dan cari apa sebabnya. Di mana kesalahannya. Dan siapa yang salah. Kalau Nyoman yang salah, tidak mampu bertindak sebagai istri, ceraikan kalau perlu. Jangan diapungkan. Tapi kalau Made yang salah, harus berani mengakui. Masak sih ada suami yang punya anak kecil tiap hari pergi dan pulang larut malam hanya untuk main-main dengan seorang janda? Murah sekali harga perempuan kalau begitu. Perempuan tidak hanya direbut, tetapi harus dipelihara, sama dengan laki-laki. Laki-laki tidak hanya untuk jaga rumah, tetapi juga dituntut bekerja! Sama, Made. Pendidikan boleh lain, tetapi kewajiban tetap sama. (Wijaya, 2004: 366).

Keprihatinan Putri terhadap nasib perempuan semakin bertambah. Tidak saja Nyoman, adiknya, yang menjadi korban kesewenang-wenangan laki-laki, masih banyak perempuan lain menderita karena dominasi laki-laki. Made, sahabat kentalnya waktu SMA pun, mengalami nasib yang sama dengan Nyoman, Mereka sama-sama mempunyai suami yang menyeleweng. Padahal, mereka adalah Perempuan yang mencintai keluarga dan sanggup berkorban demi keluarganya.

Putri dihadapkan pada ketidakpuasan terhadap kondisi tersebut. Ia seperti ingin menggugat. Nasib perempuan seperti itu harus diprotes. Mengapa laki-laki, seperti Made Sukada, Oka, atau Regig boleh dengan seenaknya saja merencanakan semua targetnya. Sementara itu, ia, Nyoman, Made, dan perempuan Bali lainnya seperti dipaksa harus menerima semuanya, seolah-olah itu sudah ditakdirkan untuk mereka. Di mana letak keadilan? Apakah Tuhan hanya berpihak kepada laki-laki? Mengapa seorang perempuan lebih menderita daripada seorang laki-laki? Pertanyaan itu seperti dengungan lebah di kepala Putri. Ia sendiri tidak sanggup menjawabnya karena mungkin sifat sensitif yang dilekatkan kepada perempuan oleh

45