Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/55

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

sebuah aturan baku yang harus ditaati oleh setiap individu. Menurutnya, adat dan tradisi seharusnya tidak menyiksa, tetapi membebaskan. Itulah ukuran untuk menobatkan sebuah kebijaksanaan menjadi adat dan tradisi. Namun, kebanyakan masyarakat percaya bahwa tabu mempertanyakan tradisi.

Tradisi ada bukan untuk dipertanyakan, tetapi untuk diikuti. Putri sangat tidak menyetujui pandangan tersebut. Mengapa sebuah tradisi kemudian berkembang menjadi penghalang bagi manusia, menjadi penindas, menenggelamkan, dan memberangus langkah Peradaban. Banyak dari tradisi tersebut yang tidak memiliki akar spiritual yang kuat. Sebagian malah merupakan hasil kesalahan menyimak dan sebagian besar lagi merupakan hasil dari kemalasan berpikir dan meninjau kembali. Sebagian besar lagi adalah benteng untuk mempertahankan supremasi kaum tua, mempertahankan supremasi kepentingan tertentu. Semuanya itu telah memanipulasi apa yang selama ini dikenal orang dengan adat dan tradisi.

Korban terbesar dari kesalahan dalam menafsirkan tradisi itu adalah perempuan. Perempuan yang sudah termarginalkan posisinya dalam budaya yang lebih mementingkan laki-laki itu semakin terpuruk dan sesak oleh beban yang seperti tak putus-putusnya. Perempuanlah Yang menanggung penderitaan terbesar dari kesalahan penafsiran tersebut. Sungguh berat beban perempuan. Belum habis penderitaan yang satu, sudah disambung oleh penderitaan yang lain. Perempuan harus memikul tanggung jawab, lebih daripada yang dimiliki oleh laki-laki. Mereka harus bekerja keras untuk keluarganya karena memang diharuskan seperti itu, sementara hasil yang mereka dapatkan tidak sepadan dengan apa yang telah mereka berikan. Kebahagiaan seperti barang mewah yang tidak terbeli. Penderitaanlah yang sering terobralkan dalam kehidupan mereka.

Pertanyaan Putri tentang tradisi juga merupakan pertanyaan terhadap kondisi Bali pada umumnya. Pembangunan dan perkembangan Bali sangat mempengaruhi masyarakatnya, khususnya perempuan. Saat ini Bali telah menjadi hutan lindung dan cagar alam bagi bentuk kehidupan spiritual di masa lalu. Kehidupan itu lebih menitikberatkan upacara fisik, bukan perjalanan rohani.

Apa yang selama ini sering dipertontonkan kepada pengunjung memang sudah terjual laris, yang membuat Bali melejit di seluruh peta pariwisata dunia, Akan tetapi, rakyat miskin dan terutama para perempuan telah menjadi korban sepanjang hidup mereka demi memelihara kesenangan para pelancong itu. Meskipun kemudian seiring perjalanan roda waktu, setelah kurun waktu yang cukup

43