Untuk apa pengorbanan sebesar itu? Apa yang mau diperjuangkan dan dibuktikan dengan pengorbanan itu? Hanya untuk menunjukkan bahwa manusia bisa menindas keinginan pribadinya? Untuk apa? Apa itu sekadar menumpuk piutang, supaya mendapat jalan untuk moksa, naik ke sorga? Apakah kebaikan bisa diutang-piutangkan? Benarkah konsep moksa bisa dipecahkan dengan matematika sesederhana itu? Masak religiusitas disederhanakan sekanak-kanak itu? (Wijaya, 2004: 281).
Siapa tahu pengorbanan itu tak sungguh-sungguh dikehendaki oleh orang tua mereka dulu. Kakek dan nenek mungkin hanya mewarisinya saja sebagai kebiasaan. Anak harus ikut apa saja kata orang tua. Atas nama pelestarian adat dan tradisi, keinginan seseorang dipreteli tanpa batas. Semacam perbudakan yang dihubung-hubungkan dengan masalah spiritual sehingga selalu dapat dikendalikan karena ada rasa takut. Seakan-akan merasa takut adalah benar, bahkan terpuji. Sikap takluk menjadi teladan yang terhormat. (Wijaya, 2004: 281).
Pikiran yang diuraikan dalam dua kutipan tersebut memperlihatkan keprihatinan Putri terhadap kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat Bali, terutama dalam hal perkawinan. Dua orang yang tidak saling mencintai dan tidak memiliki keinginan untuk bersatu kemudian terpaksa harus bersatu dalam perahu rumah tangga karena diharuskan oleh tradisi. Jika orang tua sudah berkehendak, tidak ada bak bagi anak untuk menolak. Hal itu sudah menjadi kebiasaan, sudah tradisi. Keinginan dan pikiran anak yang akan dinikahkan tidaklah begitu penting. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan harus dituruti. Anak harus membunuh keinginan pribadinya dan menuruti keinginan orang tua. Kebiasaan itu sudah berlaku lama dan membutuhkan pengorbanan untuk melaksanakannya. Pengorbanan itu dianggap mulia demi keselarasan kehidupan rumah tangga.
Itulah yang tidak bisa dipahami Putri. Untuk apa sebuah pengorbanan, jika itu hanya akan membunuh pribadi yang bersangkutan secara perlahan, Untuk apa sebuah tradisi dipertahankan, jika hanya akan menindas. Padahal, tradisi itu hanya buatan manusia. Mengapa bisa menjadi sebuah doktrin, menjadi