menyeruak dari kegelapan, menerangi hati setiap insan yang berada di dekatnya, termasuk Wikan, yang dengan diam-diam menyimpan rasa terhadap Putri. Putri dengan segala keistimewaannya, dengan segala keberbedaannya. Ketika ayah Wikan sakit, Putri datang dengan seikat bunga, sesuatu yag tidak biasa dilakukan oleh orang Bali, jika menengok orang sakit. Akan tetapi, Putri datang bagai seorang bidadari yang mempersembahkan bunga untuk seorang pangeran. Satu lagi keistimewaan Putri sebagai perempuan Bali terlihat dan itu tidak akan sering dijumpai pada perempuan Bali lainnya.
Ia memang berbeda. Putri selalu bisa menjadikan hal yang tidak biasa dilakukan selama ini sebagai sesuatu yang menjadi ciri khasnya. Suatu tindakan yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan lain akan dilakukan dengan bebas dan tanpa beban oleh Putri. la menganggap, bunga lebih mewakili keinginannya dan menyampaikan rasa simpatinya pada si sakit. Ia tahu dengan pasti, Ratu Aji sangat menyukai bunga, apalagi bunga segar yang langsung dipetik dari kebun. Itu satu kelebihan Putri, Ia mampu membaca keinginan dan pikiran orang lain. Ia mampu memutuskan kapan ia harus berbuat ini atau melakukan itu. Hal itu jarang sekali dijumpai pada perempuan Bali, apalagi perempuan yang berasal dari desa dan dibesarkan dalam lingkungan kampung yang sangat berbeda kondisinya dengan lingkungan yang lebih luas.
Putri sangat peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, termasuk menyikapi persoalan keluarganya. Ketika ibunya sakit, perempuan yang sudah renta itu mengeluarkan seluruh unek-uneknya yang terpendam selama bertahun-tahun. Ia memaki dan mengeluarkan kata-kata kotor yang tak terdengarkan oleh Putri, menyangkut bapaknya. Bagaimana ia sangat tidak bahagia dan tidak pernah bisa mencintai Mangku Puseh. Putri sangat prihatin terhadap kondisi tersebut.
Apa yang terjadi tidak lepas dari tanggung jawab tradisi dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat Bali. Putri tidak habis pikir, bagaimana sebuah keluarga dibangun di atas fondasi yang sama-sama tidak didasari oleh cinta. Bagaimana mungkin dua orang yang tidak saling mencintai bisa hidup berpuluh tahun hanya demi mengikuti keinginan sebuah kepentingan. Ia prihatin dengan kondisi orang tuanya, Dalam keadaan sakit, ibu Putri baru bisa menumpahkan segala perasaan yang selama berpuluh tahun dipendamnya. Pengorbanan itu, Menurut Putri, sangat konyol dan menyiksa setiap individu yang hidup di dalamnya, terutama menyakiti perempuan.