Pandangan tersebut dibantah oleh Putri. Menurutnya, bukan karena perempuan dianggap lebih kuat, melainkan karena laki-laki menganggap perempuan lebih bodoh sehingga disuruh berkorban. Hal itu dilakukan laki-laki untuk bisa bermalas-malasan dan melakukan perbuatan yang seringkali melecehkan kaum perempuan. Putri tidak setuju dengan ukuran yang dikatakan oleh Mangku Puseh. Menurutnya, ukuran tersebut hanya dibuat-buat. Itu bukan ukuran baku. Segala sesuatu yang sudah menjadi tradisi dari dulunya, tidak berarti memberikan keadilan untuk saat sekarang. Oleh karena itu, hal seperti itu tidak perlu dipertahankan lagi. Menurut Putri, apa yang diwariskan oleh tradisi harus diuji kelayakannya. Kalau memang tidak sesuai lagi dengan kondisi hari ini, untuk apa lagi diteruskan.
Kekerasan hati Putri dalam mempertahankan pendapat dan pikirannya, terutama menyangkut hal perempuan, kembali terlihat ketika terjadi perdebatan dengan Mangku Puseh. Putri ingin turut mengambil bagian dalam perbincangan Mangku Puseh dan Sadra karena ia menganggap yang dibicarakan adalah persoalan perempuan. Ia merasa berhak mengetahui apa yang dibicarakan oleh bapaknya dan Sadra. Akan tetapi, Mangku Puseh bersikeras untuk menyuruhnya pergi karena persoalan yang dibicarakan hanya membutuhkan kehadiran laki-laki.
Putri memandangnya dari sudut yang berbeda. Jika yang dibicarakan adalah kepentingan kaum perempuan, mengapa perempuan tidak berhak mengambil bagian karena yang dipersoalkan adalah diri mereka. Itu sungguh tidak adil. Untuk membicarakan diri dan nasib mereka sendiri pun, mereka tidak berhak turut serta. Di mana letak keadilan itu, Apakah semuanya sudah dikuras habis oleh dominasi laki-laki? Apakah perempuan tidak bisa menentukan sendiri nasibnya? Mengapa sepertinya kaum lelakilah yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kaum perempuan? Inilah yang Sepertinya ingin didobrak oleh Putri.
Keprihatinan Putri yang terungkap dalam pertanyaannya adalah keprihatinan kaum feminis. Mengapa adat dan tradisi harus memojokkan perempuan pada posisi yang termarginalkan, dinomorduakan, dan dianggap tidak penting sehingga harus selalu diwakili oleh laki-laki. Subordinasi perempuan itu harus dihentikan dan Putri sudah memulainya dengan bersikap tegas terhadap tradisi yang tidak menguntungkan kaumnya.
Putri adalah perempuan istimewa di mata setiap orang yang mengenalnya. Putri dengan seluruh kehadirannya, seperti