menyampaikan bahwa perempuan juga mempunyai prinsip, mempunyai idealisme yang akan dipertahankannya. Perempuan tidak akan dengan mudah dikendalikan oleh dominasi laki-laki ataupun oleh embel-embel kasih sayang. Mereka juga bisa tegas dan menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsipnya.
Pertanyaan yang diajukan Putri dan ketidakpuasannya terhadap kenyataan yang sering ditemuinya dalam masyarakat, menyangkut perlakuan mereka terhadap perempuan, merupakan pertanyaan kaum perempuan pada umumnya. Sepertinya, perempuan hanya menjadi objek, tidak diberi kesempatan untuk menjadi pelaku. Masyarakat sudah sangat terbiasa dengan sikap pengkultusan terhadap laki-laki. Laki-laki boleh melakukan ini atau itu, sementara tabu dan janggal bagi perempuan untuk melakukan sesuatu yang selama ini hanya dilakukan oleh laki-laki.
Putri menganggap adat dan tradisi lebih berpihak kepada kaum laki-laki. Keberpihakan itu tidak saja terjadi dalam lingkungan yang besar, dalam lingkungan terkecil seperti keluarga pun keberpihakan itu terlihat nyata. Jika seorang laki-laki yang melakukan pelanggaran atau aib yang membuat malu keluarga, hal itu dianggap sebagai perbuatan yang biasa karena mereka adalah laki-laki. Akan tetapi, kalau perbuatan yang dianggap mendatangkan malu bagi keluarga, apalagi masyarakat, dilakukan oleh perempuan, mereka akan dikucilkan dan dicampakkan dari lingkungannya.
Kesenjangan seperti itulah yang ingin didobrak Putri. Menurutnya, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama. Hanya bentuk fisiklah yang secara kodrati membedakan perempuan dengan laki-laki. Kodrat itu telah digariskan oleh Tuhan, bukan kodrat yang digariskan oleh manusia, juga bukan kodrat yang dibangun oleh struktur sosial dan budaya. Putri menyadari sekali haknya sebagai seorang perempuan. Untuk itulah, ia menggugat kebiasaan yang seringkali tidak berpihak pada kaumnya.
Sering kali Putri harus berdebat dengan bapaknya, jika sudah menyinggung persoalan perempuan. Mangku Puseh menganggap perempuan lebih kuat dari laki-laki. Oleh sebab itu, untuk keselarasan dalam keluarga, dibutuhkan pengorbanan dari perempuan. Dalam sebuah rumah tangga, ukurannya bukan kebenaran dan kesalahan, tetapi dharma sadu, kelayakan dalam rumah tangga demi keselarasan kehidupan yang lebih luas dalam masyarakat. Keselarasan itu membutuhkan pengorbanan dan pengorbanan itu kebanyakan dilakukan oleh perempuan karena menurut Mangku Puseh mereka lebih kuat.