yang lebih berhak atas dirinya, tidak juga keluarga yang telah membesarkannya, apalagi orang puri dengan sisa-sisa kekuasaannya.Hal itu tidak akan terjadi di alam demokrasi yang menganggap semua orang sama, sama rata, sama rasa. Tidak ada lagi perbedaan dan batasan antara orang puri dan orang kebanyakanKebiasaan itu sudah selayaknya ditinggalkan karena sudah tidak cocok lagi dengan kondisi hari ini.
"Apalagi begitu!" potong Putri ketus. "Mengapa saya harus dijadikan korban buat orang yang hanya tinggal 2 bulan hidup, padahal saya masih memiliki puluhantahun lagi yang harus saya kejar untuk mencapai cita-cita saya? Ini penghinaan Tu Rah! (Wijaya, 2004: 185).
Sikap tegas Putri mempertahankan prinsip dan cita-citanya tentu saja sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh kaum feminis.Perempuan harus bisa menentukan sendiri jalan kehidupan yang terbaik untuk dirinya. Dengan begitu, ia bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap orang lain. Perempuan harus menolak dengan tegas segala bentuk perlakuan yang akan merugikan dirinya. Sikap tegas Putri yang dibarengi sikap pasrah yang mengandung makna terlihat seperti dalam kutipan berikut ini.
"Pak Oka. Memang salah wanita, karena kodrat kami gainpang tersentuh oleh kasih sayang, kami jadi seperti Jayangan, kalau sudah tertiup angin dengan gampang dikendalikan. (Wijaya, 2004: 203)
Komentar Putri tentang kodrat perempuan itu terlontar ketika Oka memaksa Putri untuk menerima tawaran bergabung dengan proyek mahakarya. Pandangan yang diutarakannya merupakan sindiran bagi Oka yang menganggap Putri akan langsung saja menerima tawaran tersebut karena pernah dekat dan bekerja dengan Palakarma, bos mahakarya. Ia ingin menyindir Oka yang menganggap perempuan hanya seperti layangan, yang bisa diarahkan menurut kemauan si pemilik layangan.
Menurut Putri, perempuan juga mempunyain prinsip. Memang pada dasarnya, perempuan itu memiliki kelembutan yang mungkin jauh berbeda dari laki-laki dan mudah tersentuh kasih sayang. Sifat itu sudah telanjur menjadi merek perempuan sebagai akibat yang terbangun dari konstruksi sosial. Namun, perempuan tidak akan goyah pendiriannya hanya karena kasih sayang dan kelembutan yang diberikan. Putri di sini, sebagai wakil perempuan, ingin