Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/49

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

memiliki arti yang sangat dalam. Tidak hanya sebatas belajar memasak dan menjahit, seperti apa yang biasanya dilakukan oleh perempuan Meliling. Menjadi dewasa memiliki arti bahwa tanggung jawab perempuan menjadi semakin besar, terutama terhadap tubuhnya. Tubuh adalah barang suci yang harus dirawat dan dijaga karena dari situlah manusia akan dilahirkan. Mesin pencetak manusia itu harus dijaga dengan baik karena tidak ada satu pabrik pun di dunia ini yang bisa membuatnya. Menjadi dewasa juga berarti sebuah tuntutan bagi seorang perempuan untuk lebih menghargai tubuhnya.

Berkepribadian, tegas, dan pantang menyerah menjadi ciri khas Putri. Setiap persoalan dihadapinya dengan ketegasan yang menjadi ciri khas Putri. Salah satu peristiwa yang menuntut ketegasan Putri, apalagi yang menyangkut harga dirinya sebagai seorang perempuan, adalah ketika Ngurah Agung Wikan meminta Putri untuk menerima lamaran ayahnya yang sedang sakarat. Ia ingin Putri menyenangkan ayahnya di akhir hidupnya. Sebagai seorang perempuan yang telah berpikiran maju, Putri menganggap keinginan ayah Wikan, yang hidupnya hanya tinggal dua bulan lagi untuk memperistrinya adalah sebuah penghinaan. Ia adalah seorang perempuan yang memiliki cita-cita luhur untuk memajukan kehidupan keluarga dengan pendidikan yang telah diraihnya. Haruskah ia mengorbankan semua itu hanya untuk seorang bangsawan tua yang sudah hampir meninggal. Ia masih muda. Masih begitu panjang jalan kehidupan yang harus dilaluinya. Ia tidak mau mengubur cita-citanya hanya demi keinginan mengabdi kepada orang puri.

Sebagai seorang perempuan, Putri telah menunjukkan sikap dan pendiriannya yang tegas terhadap segala sesuatu yang menurut pikirannya adalah tindakan pelecehan terhadap dirinya sebagai seorang perempuan. Ia telah menunjukkan sikap tegas seorang perempuan Bali yang tidak mau lagi dikungkung oleh tradisi, yang terkadang seringkali merugikan kaumnya. Ia telah bercermin dari kehidupan orang-orang di sekitarnya. Seorang perempuan, yang menyerahkan dirinya untuk menjadi istri ke sekian dari seorang bangsawan puri, hanya akan memperolah kenikmatan sesaat. Setelah itu, kenikmatan tersebut berganti dengan kesengsaraan karena sang bangsawan akan mencari perempuan lain yang lebih cantik.

Putri belajar dari kondisi tersebut. Ia tidak ingin menghancurkan kehidupannya. Ia masih muda dan memiliki cita-cita. la sendirilah yang berhak menentukan apa yang diinginkannya karena diri dan tubuhnya adalah miliknya sendiri. Tidak ada orang lain

37