Sementara Putri, pada usia yang biasanya bagi gadis Meliling sudah pernah melakukan kontak fisik dengan lawan jenisnya, tetap mempertahankan kegadisannya. Bagi Putri, konsep cinta tidak semata dibangun dari persentuhan secara fisik. Cinta adalah bangunan emosi antara laki-laki dan perempuan. Ia tidak menginginkan seorang laki-laki yang nantinya hanya akan membuahi rahimnya dan kemudian menjadi bapak dari anak-anaknya. Laki-laki harus mempunyai ikatan secara emosi dengan perempuan dan pada saat itulah Putri akan dengan tulus dan ikhlas mempersembahkan keperawanannya.
Apa yang terungkap di atas merupakan wujud perjuangan seorang perempuan untuk membebaskan tubuhnya dari kewajiban yang hanya dipandang secara biologis saja. Budaya patriarkat yang cenderung memandang perempuan dari aspek biologisnya saja hingga perempuan baru berarti, jika rahimnya berfungsi dengan baik. Di luar itu, perempuan tidak memiliki makna apa-apa.
Mungkin inilah yang ingin dirombak oleh Putri. Baginya, seorang perempuan tidak hanya berarti karena fungsi biologisnya yang satu itu saja. Tanpa rahim pun, seharusnya perempuan memiliki hak yang sama dalam kehidupan. Mengapa tubuh perempuan dijadikan alat untuk memarginalkan dan menomorduakan mereka. Untuk apa seorang perempuan dikaruniai rahim dan alat biologis yang lain, jika hal itu hanya akan membuat laki-laki menginjak-injak harkat seorang perempuan. Mengapa perempuan baru berarti bagi laki-laki sejauh rahimnya masih berfungsi. Mengapa ada anggapan yang memandang bahwa peran perempuan tidak lebih dan tidak kurang hanya untuk menerima benih laki-laki, memelihara janin dalam rahimnya, dan merawat bayinya. Putri tidak menginginkan hal itu terjadi pada dirinya. Ia tidak ingin mengulang sejarah, seperti apa yang terjadi pada ibunya, menjadi mesin pencetak anak tanpa ada ikatan secara emosi sedikit pun dengan si pembuah benihnya. Ia ingin rahimnya dibuahi oleh laki- laki yang dicintai dan mencintainya. Ia menjadi berarti bukan karena rahimnya saja, tetapi karena dirinya secara keseluruhan, lahir dan batin.
Pandangan Mangku Puseh tentang kedewasaan seorang perempuan adalah ketika ia telah memasuki dunia keperempuanan, yaitu datangnya haid untuk pertama kalinya. Hal itu mengharuskan seorang perempuan bisa mempelajari hal-hal, yang menurut Mangku Puseh sudah dilakukan oleh perempuan sejak dulu, seperti memasak dan menjahit, tetapi mendapat tantangan dari Putri. Menurut putri, masa ketika seorang perempuan memasuki alam kedewasaannya