Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/47

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

menghadap Bos. Hari ini juga kamu akan jadi wartawan. Kamu perempuan, begitu cantik, masih single lagi, kamu akan mudah sekali menembus sumber berita. Dalam satu bulan kamu akan jadi wartawan hebat!" Putri berpikir. Kemudian menggeleng. "Tidak. Saya tidak mau diterima bekerja hanya karena saya perempuan... (Wijaya, 2004: 83).

Putri memang pribadi yang kompleks. Di satu sisi, dapat dikatakan ia adalah pejuang kaum perempuan, yang ingin memajukan dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap laki-laki, sekaligus ingin memperbaiki cara pandang masyarakat terhadap tradisi. Namun, di sisi yang lain, Putri tetap menghormati dan menghargai nilai tradisional dan kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya, apalagi jika hal itu datang dari sikap dan pribadi ayahnya, Mangku Puseh. Ketika mengetahui kenyataan bahwa ibunya menerima Mangku Puseh sebagai suaminya dengan keterpaksaan, Putri menanggapi hal itu dengan pikiran yang jernih. Ia tidak pernah menyalahkan Mangku Puseh yang telah merampas kehidupan perempuan yang telah puluhan tahun menjadi istrinya. Putri menyadari bahwa Mangku Puseh sendiri pun tidak menginginkan hal itu terjadi. Ia tidak pernah dengan sengaja ingin merampas hidup perempuan yang tidak pernah mencintainya ilu. Putri mengetahui dengan pasti bahwa Mangku Puseh melakukan itu karena mengikuti keinginan ibunya juga, yaitu nenek Putri. Ayahnya melakukan itu lebih sebagai kewajiban karena seluruh kehidupannya adalah dharma. Dapat dikatakan, ia juga adalah korban dari tradisi yang telah mendarah daging itu.

Banyak pikiran tentang perempuan tercermin dalam diri tokoh Putri. Salah satu pikirannya yang melekat erat pada diri setiap manusia, khususnya perempuan adalah persoalan cinta. Cara pandang Putri pada konsep cinta sangat berbeda dari kebanyakan pandangan perempuan Meliling. Bagi mereka, konsep cinta tumbuh secara perlahan-lahan lewat persentuhan badan. Oleh karena itu, banyak dari gadis-gadis Meliling yang sudah tidak perawan lagi karena telah melepaskan keperawanan mereka, baik oleh pacar maupun suami mereka.

Pada usia Putri, semua wanita di Meliling sudah tidak perawan lagi. Entah oleh suami, atau pacar-pacar. Hanya Putri yang tertahan atau bertahan. (Wijaya, 2004: 101).

35