hina baginya, jika mengetahui seseorang, apalagi orang itu adalah suami adiknya sendiri, mengkhianati janji yang sudah diikrarkan dalam lembaga perkawinan. Ia tidak akan tinggal diam. Ia sangat tidak menyukai tindakan Made Sukada yang menyia-nyiakan istri dan anaknya.
Tidak masuk dalam pikiran Putri, bagaimana bisa seorang laki-laki yang sudah memiliki tanggung jawab terhadap istri dan anaknya bisa melakukan perbuatan seperti itu. Padahal, Nyoman, adiknya, sudah bekerja keras dan berusaha menjadi istri yang baik. Putri dengan keberanian dan keteguhan hatinya menentang segala bentuk penyelewengan dan berusaha mengembalikan Made Sukada kepada keluarganya. Dengan tegas, ia meminta laki-laki itu memilih antara keduanya, keluarga atau kekasih gelapnya. Jika memang ia tidak lagi menginginkan istrinya, Putri dengan rela akan memboyong adiknya pulang ke rumah. Hidup seorang perempuan tidak untuk disia-siakan, apalagi jika ia sudah bersuami dan memiliki anak. Begitulah pandangan Putri, yang tentu juga akan didukung oleh kaum feminis yang sangat anti pada tindakan pelecehan terhadap perempuan.
Putri adalah seorang pelopor. Niatnya yang tulus untuk menjadi guru, dalam arti yang sebenarnya, yaitu mengajar di sekolah atau di kampus selalu mendapat halangan. Ia tidak pernah benar-benar menjadi guru seperti apa yang diinginkannya. Akan tetapi, Mangku Puseh telah meyakinkan Putri bahwa sebenarnya ia telah menjadi guru. Ia adalah pelopor pemuda Meliling yang selama ini tidak jelas pekerjaannya dengan usahanya membuka pabrik kaus. Mereka yang dulunya cuma bisa keluyuran, sekarang, dengan bimbingan Putri, telah mendapat pendidikan dan mulai memahami apa itu bekerja. Ia juga telah menjadi guru bagi Sueti karena telah membawanya keluar dari kehidupan yang kelam selama menjadi penyeroan dan gelandangan. Menjadi guru, menurut Mangku Puseh, tidak hanya bisa dilakukan di sekolah, tetapi juga bisa dilakukan di rumah dan di dalam masyarakat. Tanpa disadarinya, Putri telah melakukan tugas seorang guru.
Menjadi perempuan pelopor adalah cita-cita kaum feminis. Perempuan tidak hanya bisa menjadi pengikut. Mereka juga mampu menjadi pelopor, anutan bagi orang-orang di sekitarnya. Kepeloporan seorang perempuan mendapatkan tempat yang paling istimewa dalam pandangan kaum feminis. Dengan kepeloporannya, berarti ia telah mampu menjadi seorang pemimpin dan menghilangkan ketergantungan pada orang lain.
Sebagai seorang perempuan pelopor, Putri juga adalah wanita yang tegas. Prinsipnya tentang apa yang diyakininya tidak