penyeroan. Ia tidak mau menjadi penyeroan Nelly. Menurut Putri, Nellylah yang pantas menjadi asistennya. Itu pun kalau ia bersedia menerima Nelly sebagai asistennya.
Tindakan itu membuktikan komitmen Putri untuk tidak lari lagi dari kenyataan yang terpampang di hadapannya. Keberaniannya semakin menemukan jalan pelampiasannya. Dengan berani dan tegas, ia menyatakan sebuah kebenaran yang selama ini selalu disimpannya, yaitu kenyataan bahwa ialah yang sebenarnya menulis skripsi Nelly. Jadi, buku Tradisi Baru yang diakui Nelly sebagai buah pikirannya adalah hasil karyanya. Ia boleh berbangga dengan hal itu karena berarti buah pikirannya mendapatkan tempat di hati masyarakat.
Penolakan Putri terhadap tawaran untuk bergabung dengan Palakarma merupakan wujud pemahamannya tentang tradisi. Buku Tradisi Baru yang sebenarnya merupakan buah pikirannya telah bercerita banyak tentang cita-citanya mengenai Bali. Ia memang menginginkan sebuah perubahan dalam memandang sebuah tradisi, tetapi ia tidak akan pernah menyetujui sebuah proyek mahakarya yang akan mengubah Bali secara total. Pada dasarnya, ia masih seorang tradisionalis yang menginginkan semua orang memandang tradisi dari sudut pandang yang lebih luas, bukan sudut pandang sempit yang selama ini telah membelenggu masyarakat Bali. Mereka rela diperbudak tradisi dan mengorbankan kehidupan mereka hanya untuk sebuah tradisi yang tidak cocok lagi dengan kondisi sekarang. Bagi Putri, yang penting adalah memaknai sebuah tradisi, bukan menelannya bulat-bulat sebagai sebuah peraturan, apalagi hukum karena tradisi itu hanya buatan manusia. Jadi, sah-sah saja jika penerus tradisi tersebut memaknainya dari sudut pandang yang berbeda.
Tindakan tegas Putri memperlihatkan sikapnya sebagai seorang perempuan yang memiliki idealisme sendiri. Ia sanggup mempertahankan keyakinan dan pikirannya. Ia mengetahui dengan pasti apa yang terbaik untuk dirinya. Sikap inilah yang dikehendaki oleh perjuangan kaum feminis. Perempuan harus mempunyai sikap. Mereka harus tegas hingga akhirnya tidak mudah digoyahkan oleh iming-iming harta dan kedudukan. Untuk apa harta dan kedudukan, jika perempuan harus menggadaikan keyakinannya, menjual idealismenya.
Putri memang berbeda dengan perempuan yang ada di Meliling. Cara pandang dan pola pikirnya pun jauh lebih maju. Setiap persoalan yang dihadapinya, dipandangnya dari sisi yang berbeda dari apa yang dipikirkan orang lain. Dalam menghadapi kasus kehamilan Nyoman pun, kelihatan kedewasaan dan kematangan Putri dalam