Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/40

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

"Masa depan saya? Saya tidak mau gila seperti Mekel Mirah. Saya mau menjadi guru, seperti yang dicita-citakan Meme!" (Wijaya, 2004: 18).

Putri, sebagai tokoh utama cerita, selalu mempertanyakan tradisi serta persoalan wanita dan cita-citanya demi kemajuan diri dan orang-orang di sekitarnya. Pertanyaannya tentang tradisi yang terkadang cenderung memojokkan kaum perempuan merupakan pertanyaan kaum feminis. Budaya patriarkat yang cenderung menomorduakan perempuan membuat banyak perempuan Bali tidak berkutik. Mereka yang pasrah statis dalam kondisi yang tidak menguntungkan itu. Lain halnya dengan perempuan pemberontak, seperti Putri. Ia memiliki visi demi mencapai cita-citanya. Ia tidak mau terpuruk dalam posisi yang sama sekali tidak mengenakkan. Ia menghormati dan menghargai perempuan perkasa, seperti ibunya. Namun, hal itu belumlah cukup bagi seorang Putri. Ia tidak ingin hanya menjadi seperti mereka. Ia ingin menjadi guru, menjadi berguna dan mengabdi pada masyarakatnya.

Pribadi Putri memang komplit. Di balik keteguhan dan kekerasan hatinya dalam memperjuangkan keyakinan dan cita-citanya, masih tersimpan sikap yang dibawanya dari pengalaman sebagai penyeroan (pembantu) di Puri Puncak. Pengalaman itu membuatnya luwes dalam pergaulan. Ia selalu bisa menempatkan diri dalam bentuk masyarakat apa pun. Pengalamannya menjadi penyeroan di puri mengajarkan dan membuatnya terbiasa serta mahir dalam hal itu. Dalam berbahasa dan berkomunikasi pun, pengalaman selama menjadi penyeroan membuatnya selalu menunggu. Tidak mau langsung menjawab sebuah pertanyaan karena menurutnya seseorang yang bertanya belum tentu menginginkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Ia terlatih kapan untuk menjawab dan kapan saatnya ia harus diam. Kebiasaan itu menjadikannya istimewa, jika dibandingkan dengan perempuan lain pada umumnya. Kepintaran sekaligus kerendahan hati sebagai orang yang pernah mengabdi menjadikannya memahami sekali sifat orang-orang di sekitarnya.

Di balik kepintaran dan ketegarannya, Putri juga hanyalah seorang perempuan biasa yang memiliki kelemahan dan kekurangan. Di depan orang lain, terutama keluarganya, ia selalu berusaha kelihatan tegar. Padahal, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat rapuh. Pada dasarnya, ia tidak jauh berbeda dengan perempuan kebanyakan, sama saja dengan perempuan lain di kampungnya. Hal itu dapat kita lihat ketika Nyoman tanpa sengaja membaca buku

28