Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/39

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

menginginkan sebuah kehormatan, yang menurut Ratu Aji, akan diperolehnya, jika ia bersedia menjadi istrinya. Ia tidak membutuhkan kehormatan tersebut, bahkan menentangnya. Ada persoalan lain yang perlu mendapatkan perhatiannya, bukan sebuah kehormatan semu yang sama sekali kabur dan belum tentu menjanjikan sebuah kehidupan yang membahagiakan. Ia harus memikirkan sesuatu yang lebih penting karena keluarga dan desa menuntutnya untuk itu.

Sikap Putri itu tentu saja sangat berbeda dari sikap perempuan lain di kampungnya. Menjadi seorang istri bangsawan adalah dambaan setiap perempuan di Meliling. Walaupun bukan menjadi istri yang pertama, buat mereka itu sudah menjadi kebanggaan. Setidaknya dengan menerima lamaran bangsawan akan menaikkan strata mereka. Hal itu diyakini oleh kebanyakan perempuan di Meliling, mungkin juga di hampir semua daerah di Bali. Mereka yang berasal dari strata rendah akan naik strata dengan sendirinya, jika menikahi atau dinikahi oleh kaum bangsawan. Putri sangat tidak menyetujui sikap tersebut. Baginya, sebuah pernikahan adalah persoalan yang sangat sakral. Pernikahan bukanlah sebuah jual beli atau tawar-menawar dalam perdagangan. Perempuan bukan untuk diperdagangkan atau diperlakukan seenaknya sehingga dengan gampangnya dijadikan sarana pemuas hasrat dan nafsu laki-laki bangsawan.

Apa yang dilakukan dan diputuskan oleh Putri merupakan perjuangan kaum feminis yang menginginkan kemajuan bagi perempuan. Perempuan harus berkembang. Ia tidak boleh terjebak hanya dalam posisi tradisionalnya saja, menikah, melahirkan, dan membesarkan anak-anaknya. Perempuan harus berpikiran jauh ke depan. Tantangan di masa depan yang terhampar di hadapannya lebih membutuhkan perjuangan yang menguras pikiran serta tenaga mereka.

Perempuan harus memperjuangkan hak-haknya. Mereka tidak boleh tergoda dengan iming-iming kenikmatan yang terkadang malah menjerumuskan mereka. Karena itulah, Putri sangat marah ketika mengetahui tindakan Mangku Puseh meminta uang kepada Ngurah Agung Wikan, putra Ratu Aji. Ia menganggap perbuatan ayahnya itu sama saja dengan menjual dirinya ke puri. Walaupun Mangku Puseh berlindung di balik alasannya bahwa uang itu untuk kepentingan pura, tetap saja ia telah melecehkan putrinya sendiri dan Putri sangat menentangnya.

“Bapa sampai hati menyerahkan saya untuk menjadi istri ketiga Ratu Aji, hanya dengan pembangunan pura?”

“Demi masa depanmu sendiri, Putri!”

27