juga dengan kakak sepupunya itu, perbuatannya itu hanyalah wujud dari cintanya pada Putri yang tidak pernah kesampaian. Kelembutan dan cara Putri menyikapi peristiwa percobaan perkosaan, yang beberapa kali terjadi pada dirinya, akhirnya membuat Sadra bertekuk lutut oleh kelembutan itu. Nafsu berahi yang telah menguasai seluruh tubuhnya menguap ketika menyaksikan Putri tidak melakukan perlawanan sedikit pun dan tampak pasrah dengan tindakannya. Akhirnya, Putri selamat dari perkosaan itu. Putri meyakini bahwa kekerasan tidak harus dilawan dengan kekerasan. Ada saatnya kelembutan akan mengalahkan luapan emosi dan nafsu yang sedang menggelora. Mungkin agak sedikit bertentangan dengan isu feminis, tetapi Putri mempunyai alasan yang cukup kuat dan masuk akal dalam menyikapi peristiwa tersebut.
Menarik sekali mengamati sikap Putri sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Di satu sisi, keinginannya sebagai seorang perempuan untuk maju, berkembang, dan mengurangi ketergantungan-nya pada orang lain, terutama laki-laki, merupakan sikap yang dianjurkan dan dipuji oleh kaum feminis. Namun, di sisi lain, sebuah perbuatan yang menurut kaum feminis dianggap sebagai tindakan pelecehan terhadap kaum perempuan dan sangat ditentang oleh kaum feminis justru dianggap Putri sebagai sebuah kewajaran. Ia tidak menganggapnya sebagai tindakan pelecehan terhadap dirinya. la memahami dan dapat memaklumi tindakan tersebut sebagai bentuk kenakalan Jaki-laki karena pada dasarnya laki-laki memang begitu. Begitulah adanya laki-laki. Mungkin kaum feminis tidak akan menyetujui tindakan Putri itu, tetapi Putri memiliki keyakinan dan pikiran sendiri dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi pada dirinya.
Sikap Putri yang lain, yang juga merupakan sikap yang didukung oleh kaum feminis ialah ketika ia menolak lamaran yang diajukan oleh Ratu Aji, seorang bangsawan di Puri Tabanan. Ratu Aji berencana menjadikannya sebagai istri ketiga. Dengan tegas Putri meriolak lamaran yang diajukan oleh Ratu Aji. Lamaran tersebut disampaikan Ratu Aji dengan membelikan Putri sebuah sepeda motor. Ja tidak tergiur dengan sepeda motor yang dibelikan dan janji yang dilontarkan, jika ia mau menerima lamaran Ratu Aji. Ja ingin menjadi guru dan mewujudkan cita-cita ibunya, yang juga merupakan cita- citanya. Untuk apa ia sekolah tinggi-tinggi, jika hanya akan berakhir menjadi istri ketiga seorang bangsawan tua. Penolakan keras Putri terhadap lamaran Ratu Aji tersebut merupakan wujud kesadaran terhadap hak pribadinya. la tidak
26