bertindak. Apakah memang budayanya seperti itu? Budaya itu membuat penduduk lebih suka statis dalam suatu kondisi tanpa berkeinginan untuk mengubah kondisi tersebut. Mengapa lelaki di kampungnya terlihat lemah? Justru ia, yang hanya seorang perempuan, memiliki keinginan yang besar untuk memperbaiki kehidupan, bukan saja kehidupan pribadinya, melainkan juga kehidupan penduduk kampungnya. Dalam hal ini, Putri telah menunjukkan keberhasilannya dalam bersikap dan bertindak, yang mengacu pada keberhasilan perjuangan kaum feminis.
“Saya saja berani, masak yang laki-laki tidak,” kata Putri. “Sejarah kita baru ditulis, dan yang menuliskannya adalah kita sendiri. Sama sekali bukan sudah dituliskan oleh orang lain (Wijaya, 2004: 4).
Putri sangat peduli dengan nasib kaumnya, terutama nasib perempuan di sekitarnya. la termasuk perempuan yang beruntung karena bisa menikmati kebebasan dan kehidupan yang sedikit berbeda dari perempuan di kampungnya. Di tengah keberuntungannya itu, ia masih menyisakan rasa keprihatinan yang mendalam terhadap nasib kaumnya. Begitu beratnya perjuangan seorang perempuan untuk mencapai kebahagiaannya. Keprihatinan Putri adalah keprihatinan kaum feminis dalam menyikapi nasib yang sering menimpa kaum perempuan. Mereka harus berjuang keras mancapai kebahagiaannya, terutama bagi perempuan Bali yang hidup dalam budaya yang lebih menguntungkan laki-laki. Perempuan harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan sedikit kebahagiaannya.
Putri kembali menangis di dalam kamar itu. la merasa tak berdaya dipermainkan oleh nasib. Seakan-akan nasib memang makhluk kejam yang sengaja diciptakan untuk mendera orang miskin dari desa. Kebahagiaan menjadi begitu mahalnya, karena setiap kerat meminta bayaranyang terlalu tinggi. Terutama perempuan, harus membayarnya dengan darah dan air mata (Wijaya, 2004: 13).
Menjadi feminis berarti mengerti bahwa sebelum perempuan menyadari dirinya termasuk dalam kelompok ras, bangsa, agama, atau keluarga tertentu, pertama-tama ia adalah perempuan. Hal itu berarti bahwa apa pun ras, bangsa, agama, dan keluarganya, seorang perempuan tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai individu perempuan yang terpisah dari individu lainnya. Masalah terjadi
24