pendidikannya ke perguruan tinggi. Seorang perempuan yang berpendidikan merupakan hal yang sama sekali baru bagi penduduk desanya. Akan lain halnya, jika keinginan bersekolah itu datang dari laki-laki. Putri adalah satu-satunya perempuan Meliling yang beruntung dan berhasil memperjuangkan keinginannya untuk sekolah dan akhirnya menjadi sarjana.
Jangankan di Meliling ini, di Puri Puncak Tabanan pun tidak ada wanita yang berhasil mendapat gelar sarjana (Wijaya, 2004: 8).
Sebuah kebanggaan bagi keluarga dan seharusnya penduduk Meliling pun semestinya berpikiran seperti itu. Akan tetapi, penduduk desa malah bersikap sebaliknya. Walaupun mendapat sorotan dan cemoohan dari penduduk desanya, Putri tetap pada pilihannya. Ia sadar bahwa pada dasarnya penduduk kampung bukannya tidak menghargai pendidikan, tetapi mereka hanya tidak rela kalau nantinya mereka akan digurui oleh seorang perempuan.
Kenyataan itulah yang ingin diubah oleh Putri. Sebuah perubahan tidak hanya harus datang dari seorang laki-laki. Perempuan pun memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Sikap Putri ini sesuai dengan perjuangan kaum feminis yang memiliki ideologi yang tegas dalam memperjuangkan hak kaum perempuan. Pendidikan bukan saja menjadi hak kaum lelaki. Kaum feminis selalu menganjurkan perempuan untuk mengembangkan dirinya terlebih dahulu sebelum menikah. Perempuan dianjurkan untuk memperoleh ilmu setinggi mungkin agar mampu mandiri tanpa harus menggantungkan hidupnya pada orang lain. Perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama. Mereka sanggup mencapai kedudukan yang setingkat dengan kedudukan laki-laki dalam masyarakat. Mereka pun bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bahkan perempuan desa seperti Putri pun sanggup melakukannya.
Sebagai seorang perempuan yang sudah mengecap pendidikan tinggi, Putri memiliki pandangan jauh ke depan. Pikirannya baru dan penuh idealisme. Pikiran maju tersebut tercermin dari sikap dan tindakannya. Dalam memotivasi penduduk desa untuk maju pun, ia sangat tegas dengan kemauannya. Seorang perempuan, seperti dirinya saja berani dan sanggup melakukan sebuah perubahan, mengapa lelaki tidak? Padahal, dalam kacamata perjuangan kaum feminisme, lelakilah yang selalu mendominasi dan menguasai kaum perempuan.
Untuk merombak mitos itulah, mereka berjuang. Mengapa justru di kampungnya lelaki lebih lamban dalam berbuat dan
23