sikap yang profeminis maupun kontrafeminis, berikut ini akan dibahas lewat tokoh perempuan dan tokoh lainnya yang mengacu pada persoalan perempuan serta latar, dalam hal ini merujuk pada latar sosial dan budaya.
3-1.1 Masalah Feminisme yang Terungkap dalam Diri Tokoh Perempuan
Pada bagian ini penulis mencoba membahas tokoh perernpuan dalam kajian kritik sastra feminis. Tokoh perempuan yang terlibat dalam cerita, baik tokoh utama maupun tokeh bawahan serta pikirannya tentang persoalan perempuan akan dikupas. Analisis itu akan dikaitkan dengan nilai tradisional Bali ataupun persoalan feminis secara global, sesuai dengan latar belakang dan teori yang telah diuraikan sebelumnya. Sifat, sikap, serta perilaku masing-masing tokoh perempuan diteliti dengan memperhatikan, baik ciri-ciri perempuan tradisional maupun ciri-ciri perempuan yang didukung oleh gerakan feminisme.
3.1.1.1 Putri Banyak sekali isu feminis yang muncul lewat tokoh Putri. Hal itu terlihat dengan adanya sikap dan perilaku Putri sebagai tokoh utama dalam mewujudkan dan memperjuangkan keinginannya. Wujud perilaku tersebut berupa penolakannya terhadap perbedaan stereotip gender yang cenderung mengebiri hak-hak perempuan sebagal manusia dan anggota masyarakat. Bentuk lain dari penolakannya adalah dengan membuktikan bahwa sebagai manusia, perempuan pun metapunyai keinginan untuk maju, berprestasi, bersosialisasi, dihargai, dan dipercayai dalam kehidupannya.
Menariknya tokoh Putri ini karena, selain masih tetap memegang nilai tradisional menyangkut perempuan dan tidak dapat melepaskan diri secara penuh dari nilai-nilai itu, ia juga memiliki sikap yang rasional dan sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh kaum feminis, yaitu menunjukkan kemampuan diri dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain, teruatama laki-laki.
Putri adalah sosok pererempuan yang cerdas dan terampil. Ia sangat sadar dengan kemampuannya dan mempunyai pandangan jauh ke depan. Keinginannya untuk maju sangatlah tinggi. Pandangan masyarakat desa yang sering memarginalkan posisi kaum perempuan dalam kehidupan adat dan rumah tangga tak membuat Putri surut dan patah arang. Salah satu sikap Putri yang berjuang untuk haknya secara pribadi ialah ketika ia memutuskan untuk melanjutkan
22