Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/31

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

tersebut. Mereka cenderung menempatkan perempuan pada tempat yang tidak penting, malah terkadang sangat termarginalkan.

Kondisi perempuan Bali yang termarginalkan itu dapat dilihat dan diamati dari kehidupan mereka sehari-hari. Apakah karena terlau dimarginalkan sehingga membuat perempuan Bali tumbuh menjadi perempuan pekerja. Mereka adalah pekerja keras, tidak saja di rumah, sebagai seorang ibu atau seorang istri, tetapi juga di luar rumah. Mereka adalah petani yang kuat, penggembala sapi yang sabar, pekerja jalan yang ulet dan tekun di proyek pembangunan jalan. Sepertinya, perempuan Balilah yang menjadi roda penggerak kehidupan Bali. Lalu di manakah laki-laki sebagai penguasa keluarga tersebut.

Hari-hari laki-laki Bali adalah hari untuk upacara. Upacara itu menuntut kehadiran mereka, baik secara fisik maupun mental. Apalagi bagi mereka yang memegang posisi sebagai pemangku. Hari-hari mereka adalah hari-hari pengabdian pada pura dan masyarakatnya. Oleh sebab itulah, seorang laki-laki memiliki peran dan fungsi yang sangat penting karena di tangan merekalah segala upacara adat yang seperti tak habis-habisnya itu dapat terlaksana.

Sebagai anak, seorang lelaki mempunyai kewajiban secara tradisional untuk melanjutkan fungsi bapaknya, apalagi kalau bapaknya adalah seorang pemangku. otomatis dialah yang nantinya akan menggantikan bapaknya menjadi pemangku, jika yang bersangkutan tidak sanggup lagi melaksanakan tugas pengabdiannya atau meninggal. Tugas itu tidak bisa ditolak karena dituntut oleh seluruh masyarakat. Melayani kepentingan masyarakat dan memimpin upacara di pura adalah tugas utama mereka. Itu sudah merupakan hak masyarakat dan kewajiban bagi laki-laki untuk melaksanakannya, tidak bisa didiskusikan, sudah menjadi nasib seorang laki-laki sebagai anak seorang pemangku.

Karena begitu pentingnya peran dan fungsi anak laki-laki dalam sebuah keluarga, membuat fungsi dan peran anak perempuan menjadi tidak penting. Keberadaan mereka di dalam rumah hanya dianggap sebagai penumpang gelap yang tidak punya hak dan sewaktu waktu akan pergi meninggalkan keluarganya. Mereka akan dianggap hilang, terutama dalam kehidupan pernikahan. Perempuan, dalam kehidupan pernikahan di Bali pada umumnya, adalah anak yang hilang, yang menjadi hak laki-laki dan keluarganya.

Faktor itulah yang membuat posisi seorang perempuan menjadi tidak penting dan lemah dalam keluarganya karena suatu saat ia akan pergi dan menjadi bagian dari keluarga suaminya. Anak laki-lakilah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga untuk

19