Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/30

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

rahimnya sama saja dengan mengabaikan perempuan sebagai makhluk berakal budi yang mampu menentukan jalan hidupnya sendiri. Nyata sekali bahwa kodrat perempuan yang disebut oleh budaya patriarkat itu hanyalah tipu daya untuk menguasai perempuan dan keberhasilan tipu daya budaya Patriarkat itu tidak diragukan lagi.

2.2 Perempuan dalam Tatanan Budaya Bali

Pada bagian ini diuraikan secara singkat mengenai peran, fungsi, dan kedudukan perempuan dalam tatanan budaya Bali. Bali merupakan salah satu masyarakat dalam payung kebudayaan Indonesia yang memakai sistem pengelompokan sosial secara patriarkat, Patriarkat adalah sistem pengelompokan sosial yang sangat mementingkan garis keturunan bapak (laki-laki). Sebagian besar daerah di Indonesia juga menerapkan sistem pengelompokan sosial seperti itu. Mungkin hanya orang Minangkabau sajalah yang memakai sistem pengelompokan sosial secara matriarkat, yang sangat mementingkan garis keturunan ibu (perempuan).

Dalam sistem pengelompokan patriarkat, seorang bapak (laki-laki) menjadi kepala atau penguasa seluruh keluarga. Sebagai penguasa, tentu laki-laki memiliki hak yang penuh atas segala sesuatu yang dikuasainya. Jadi, dapat dikatakan bahwa segala sesuatunya berpusat pada kekuasaan laki-laki. Jika segala Sesuatunya terpusat pada laki-laki, di manakah posisi perempuan? Apakah perempuan juga merupakan bagian dari kekuasaan laki-laki tersebut? Apakah yang terjadi pada diri perempuan dalam suatu kelompok yang dikuasai oleh laki-laki?

Memang tidak dapat dimungkiri bahwa masyarakat yang menganut sisitem pengelompokan sosial seperti itu cenderung menomorduakan perempuan. Sebagai yang nomor dua, tentu saja perempuan memiliki kekuasaan yang lebih sedikit daripada yang nomor satu, yaitu laki laki sebagai penguasa keluarga. Masyarakat Bali yang patrilineal pun tidak luput dari proses pengelompokan seperti itu. Laki-laki adalah nomor satu, sedangkan perempuan harus menerima ditempatkan secara sosial pada tingkatan kedua.

Dapat dikatakan menjadi nomor dua adalah menjadi sesuatu yang tidak penting karena seluruh kepentingan berpusat pada yang nomor satu, Laki-laki sebagai yang nomor satu merupakan yang terpenting dari perempuan yang menempati posisi Nomor dua. Kondisi seperti itu seringkali berdampak buruk terhadap pola perlakuan terhadap perempuan. Masyarakat Bali pun tidak lepas dari kondisi

18