Perempuan harus tunduk pada kekuatan alam tersebut. Dalam budaya patriarkat seluruh kehidupan perempuan sejak dia dilahirkan telah dipusatkan pada pemutlakan nilai-nilai kebertubuhan yang bersifat kodrati tadi.
Selanjutnya, Beauvoir menambahkan bahwa di dalam budaya patriarkat, tubuh laki-laki dengan phallus-nya menjadi simbol transenden. Sementara itu, tubuh perempuan dengan rahimnya dimiskinkan menjadi simbol imanen. Pemisahan aspek transenden dan imanen menurut jenis kelamin ini dikuatkan oleh mitos yang digunakan budaya patriarkat untuk mengafirmasi upaya laki-laki dalam mentransendensi diri.
Dalam budaya patriarkat, tabuh perempuan adalah hambatan untuk mengaktualisasi diri. Perempuan adalah rahim. Laki-laki dalam budaya patriarkat adalah individu netral yang mewakili manusia secara umum. Di sini terlihat ketidakadilan budaya patriarkat memperlakukan perempuan. Walaupun laki-laki memiliki phallus dan sperma, tetapi budaya patriarkat tidak memandang laki-laki dengan phallus-nya. Akan tetapi sebaliknya, perempuan tetap dianggap rahim dengan segala kelemahannya.
Beauvoir mengamati bahwa budaya patriarkat cenderung melakukan tipu muslihat dan pembelokan makna kebertubuhan dan perbedaan seksualitas dengan tujuan memperdaya dan menguasai perempuan. Bagaimana tidak? Jika laki-laki memang dianggap mewakili eksistensi manusia secara umum dan jika perempuan dianggap manusia, sama seperti laki-laki, dan memang demikian adanya, norma umum yang berlaku bagi laki-laki mestinya juga berlaku bagi perempuan. Jadi, jika laki-laki bukan phallus, perempuan juga bukan rahim. Pertanyaannya adalah bagaimana budaya patriarkat memperdaya perempuan dan mengapa perempuan bisa diperdaya? Apakah perempuan memang bodoh sehingga mudah diperdaya oleh laki-laki? Agar pihak yang diperdaya, yaitu perempuan menjadi percaya, laki-laki bersiasat dengan menciptakan kebenaran baru yang mendukung tujuannya, yaitu kebenaran yang bersifat mutlak dan abadi.
Aristoteles berpendapat bahwa kita harus menganggap kodrat perempuan sebagai kodrat yang secara alami memang sudah cacat. Karena perempuan adalah rahim dan makhluk insidental, perempuan berarti bagi laki-laki sejauh rahimnya masih berfungsi. Peran perempuan tidak lebih dan tidak kurang hanya untuk menerima benih laki-laki, memelihara janin dalam rahimnya, dan merawat bayinya.