Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/25

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa perempuan pun secara moral bertanggung jawab bagi penindasan masyarakat terhadap dirinya. Ia mencoba mengurai jalinan mitos dari fakta yang menyangkut perempuan dan feminitasnya. Mitos itu diciptakan oleh budaya patriarkat, tetapi amat sangat membuai perempuan.

Menurut Beauvoir, budaya patriarkat cenderung menempatkan perempuan sebagai jenis kelamin kedua dalam tatanan masyarakatnya. Dengan kata lain, perempuan cenderung untuk dinomorduakan dalam masyarakat patriarkat. Dalam masyarakat tersebut tubuh dan identitas perempuan tidak dianggap sebagai sesuatu yang bebas. Budaya patriarkat telah menjadikan tubuh perempuan sebagai penghalang untuk mengaktualisasi, mencipta, dan mentransendensi diri. Dengan begitu rupa, secara konkret budaya patriarkat membuat perempuan menghidupi tubuhnya bukan sebagai suatu kekuatan persepsi yang integratif, melainkan sebagai kekuatan asing yang melawan dirinya, bertentangan dengan dirinya sendiri.

Di dalam budaya patriarkat perempuan diajarkan menjalani dan meyakini seluruh aspek kehidupannya melalui nilai kebertubuhan yang negatif. Nilai tersebut kemudian menandai identitas dirinya sebagai jenis kelamin kedua. Nilai yang dianggap absolut itu menjadi dasar bagi budaya patriarkat untuk menganggap perempuan sebagai objek absolut, sebagai jenis kelamin kedua, yang makna hidupnya bergantung sepenuhnya kepada jenis kelamin pertama, yaitu laki-laki.

Budaya patriarki cenderung merendahkan dan mengucilkan perempuan. Budaya tersebut memanfaatkan tenaga kerja dan kehamilan, serta tenaga mereka untuk mengasuh anak, yang menempatkan mereka di bawah pengawasan hukaum dari ayah, saudara laki-laki, serta suami. Ideologi seperti itu tidak hanya didukung oleh laki-laki, tetapi juga sama kuatnya didukung oleh perempuan.Perempuan cenderung menerima sistem yang dikeramatkan, menerima semuanya seperti apa yang mereka yakini, yang mengikat mereka pada peranan rumah tanga dan aturan kerja demi kepentingan prestise kaum laki-laki. Kaum perempuan membawakan diri mereka sendiri dalam pengertian kebajikan dan kewajiban.

Lebih lanjut pandangan Beauvoir (dalam Lie, 2005) menyatakan bahwa budaya patriarkat yang menomorduakan perempuan menganggap nilai-nilai eksistensi perempuan ditentukan sepihak oleh laki-laki. Perempuan tidak mengalami proses dialogis dalam menghayati tubuhnya. Nilai-nilai budaya patriarkat telah menetapkan dengan tegas dan keras bahwa tubuh perempuan adalah tubuh yang lemah dan dikuasai kekuatan alam yang penuh misteri.

13