hubungannya dengan laki-laki. Perempuan bukanlah makhluk otonom. Ia bahkan “yang lain” (the other). Hanya ada satu yang diterima, yang absolut, yaitu laki-laki (Supeli dalam Lie, 2005).
Apa yang diuraikan itu merupakan konsep perempuan dalam kaitannya dengan budaya patriarkat. Simone de Beauvoir (dalam Lie, 2005), seorang tokoh feminis yang mendorong lahirnya feminisme gelombang kedua menggugat perlakuan budaya patriarkat lewat tubuh perempuan. “Aku adalah tubuhku", begitu ungkapan Marleau-Ponty yang dikutip Beauvoir. Manusia, baik laki-laki maupun perempuan adalah tubuhnya. Namun, bagi perempuan tubuh juga merupakan yang lain dari dirinya. Keniscayaan biologis menjadikan tubuh perempuan menjadi panggung drama yang tidak pernah mungkin ditolak oleh para perempuan. Sebuah panggung yang berisi kisah penuh rasa sakit, kesengsaraan badani dan emosi, serta keterasingan.
Rentetan babak kehidupan yang harus ditanggung oleh tubuh perempuan berawal ketika seorang perempuan mendapatkan haid untuk pertama kalinya. Ketika memasuki dunia perkawinan, tibalah fase kehamilan dan menyusui. Pergumulan dengan rasa perih dan nyeri yang terjadi pada tubuh perempuan baru berakhir ketika perempuan memasuki masa menopause. Kelihatannya peperangan melawan tubuh seolah-olah sudah selesai. Perempuan hanya tinggal menikmati hasil dari perjuangan tubuhnya selama ini. Akan tetapi, apakah kehidupan menjadi lebih mudah? Karena setelah itu, menurut Beauvoir, ketika akhirnya ia harus menyerah dan berhenti bertempur melawan fatalitas waktu, pergulatan justru baru dimulai. Ia perlu mempertahankan tempatnya di muka bumi. Namun, ia sudah tidak efektif lagi. Masyarakat patriarkat memensiunkan perempuan dari semua posisinya justru ketika ia mencapai kematangan pengalaman. Idealnya, itulah saat ia berada di posisi tertinggi dalam kariernya.
Di sinilah terlihat ketidakadilan budaya patriarkat terhadap perempuan. Setelah pergulatan demikian panjang, saat ia seharusnya berada di puncak keberhasilannya sebagai seorang perempuan, masyarakat patriarkat menghentikan gerak langkah perempuan matang itu, yang dengan tubuhnya telah melakukan pergulatan, tidak hanya untuk kehidupannya pribadi, tetapi terutama bagi kelangsungan kehidupan keluarganya.
Masih merujuk pada apa yang diuraikan oleh Beauvoir (dalam Lie, 2005), seseorang tidak terlahir sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan. Berangkat dari sudut pandang eksistensialis itulah, ia menjelaskan penerimaan perempuan atas penekanan terhadap dirinya.