Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/19

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Selanjutnya, Ratna (2004) mengungkapkan bahwa kritik sastra feminis dalam kaitannya dengan aspek kemasyarakatan pada umumnya membicarakan tradisi sastra oleh kaum perempuan, pengalaman perempuan di dalamnya, kemungkinan adanya penulisan khas perempuan, dan sebagainya. Jika dikaitkan dengan gerakan emansipasi, sastra feminis bertujuan membongkar dan mendekonstruksi sistem penilaian terhadap karya sastra, yang pada umumnya selalu ditinjau melalui pemahaman laki-laki. Artinya, pemahaman terhadap unsur sastra dinilai atas dasar paradigma laki-laki, dengan konsekuensi logis perempuan selalu sebagai kaum yang lemah dan sebaliknya, laki-laki sebagai kaum yang lebih kuat.

Walaupun beragamnya kritik sastra feminis yang muncul akibat gerakan feminisme yang semakin berkembang, terdapat tiga unsur yang sama-sama dikandungnya. Unsur tersebut melingkupi (1) gender sebagai suatu konstruksi yang menekan kaum perempuan sehingga cenderung menguntungkan kaum laki-laki, (2) konsep patriarki (dominasi kaum laki-laki dalam lembaga sosial) yang melandasi konstruksi tersebut, serta (3) pengalaman dan pengetahuan kaum perempuan yang harus dilibatkan untuk mengembangkan suatu masyarakat nonseksis di masa mendatang. Premis dasar tersebut mewarnai dua agenda utama teori feminis, yaitu perjuangan untuk mengikis stereotip gender dan perbaikan konstruksi sosial demi membela kepentingan kaum perempuan, yang selanjutkan diejawantahkan sebagai model feminis baru (Humm dan Kuper, 2000:354).

Selain menggunakan pendekatan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, citra perempuan juga akan dilihat dari struktur cerita tersebut. Teks sastra merupakan bagian dari keseluruhan yang lebih besar, yaitu masyarakat tempat karya sastra itu ada dan menjadi bagian, serta merefleksikan kehidupan masyarakat tersebut. Hal itulah yang menjadikannya memiliki struktur yang berarti. Dalam konteks ini, pemahaman mengenai teks sastra harus dilanjutkan dengan usaha untuk menjelaskannya dengan menempatkan teks tersebut dalam keseluruhan yang lebih besar. Itulah yang disebut Goldman (dalam Faruk, 1994:21) sebagai konsep "pemahaman-penjelasan". Menurut Goldman, pemahaman adalah usaha pendeskripsian struktur objek yang dipelajari, yaitu karya sastra, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk menggabungkannya ke dalam struktur yang lebih besar, yaitu masyarakat. Dengan kata lain, pemahaman adalah usaha untuk mengerti identitas bagian, sedangkan penjelasan adalah usaha untuk

7