Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/18

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Junus lebih berdimensi keibuan, sangat tepat untuk mewakili persoalan yang akan diungkapkan dalam penelitian ini. Kata "perempuan" memiliki makna yang sangat dalam, jika dibandingkan dengan kata "wanita", yang lebih bernuansa kreativitas dunia karier, apalagi jika dibandingkan dengan kata “betina". Semakin tepatlah pilihan kata “perempuan”, yang dapat mewakili gambaran sosok perempuan tradisional ataupun perempuan modern yang masih tetap menjaga nilai-nilai tradisional dirinya. Selain itu, kata "perempuan" mengandung kesadaran ideologi yang mulai banyak dipakai pada saat sekarang.

Khazanah kritik sastra feminis di Indonesia menjadi berimbang ketika Djajanegara (2000) memperkenalkan kritik sastra feminis Amerika. Sementara di lain pihak, Pradopo memperkenalkan Selden dengan kritik sastra feminis Prancis yang berdasarkan pada psikoanalisis Freud. Kemunculan dan perkembangan kritik sastra feminis selanjutnya dalam bentuk yang cukup beragam menyulitkan pemilihan teori yang akan digunakan. Hal itu terjadi karena beragamnya aliran dan paham feminis yang muncul.

Menurut Djajanegara (2000), kritik sastra feminis berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis perempuan di masa silam dan untuk menunjukkan citra perempuan dalam karya penulis laki-laki yang menampilkan perempuan sebagai makhluk, yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriakal yang dominan. Boleh dikatakan, hasrat pertama didasari oleh perasaan cinta dan setia kawan terhadap penulis perempuan dari zaman dulu, sedangkan hasrat yang kedua didasari oleh perasaan prihatin dan amarah.

Masih menurut Djajanegara (2000), kedua ragam hasrat tersebut menimbulkan beberapa ragam kritik sastra feminis, antara lain, kritik sastra feminis ideologis, kritik feminis ginokritik, kritik feminis sosialis atau kritik feminis Marxis, serta kritik feminis lesbian. Untuk penelitian citra perempuan dalam novel Putri ini, kritik sastra ideologis dianggap paling tepat digunakan sebagai pisau bedah. Kritik sastra feminis ideologis itu yang paling banyak dipakai. Kritik sastra feminis ini melibatkan perempuan, khususnya kaum feminis, sebagai pembaca. Yang menjadi pusat perhatian pembaca perempuan adalah citra serta stereotip perempuan dalam karya sastra. Kritik ini juga meneliti kesalahpahaman tentang perempuan dan sebab mengapa perempuan sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan sama sekali dalam kritik sastra.

6