Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/17

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

gambaran tentang diri pribadi atau kelompok. Oleh karena itu, citra perempuan identik dengan gambaran tentang diri perempuan, kondisi, serta posisinya di tengah masyarakat. Selain itu, citra perempuan juga berkaitan erat dengan gambaran dan pandangan yang dimiliki orang banyak terhadap diri perempuan.

Untuk melihat citra perempuan dalam novel Putri, diperlukan pisau bedah dalam kerangka kritik sastra feminis. Hal tersebut diungkapkan oleh Djajanegara (2000) bahwa karya sastra yang menampilkan tokoh perempuan dapat dikaji dari segi feministik. Adapun kritik sastra feminis tersebut bermula dari gerakan feminisme yang berjuang untuk perempuan dalam mencapai kesederajatan dengan laki-laki. Feminisme bukan saja merupakan upaya pemberontakan terhadap laki-laki atau upaya untuk melawan pranata sosial, seperti perkawinan dan rumah tangga ataupun upaya perempuan untuk mengingkari kodratnya, melainkan juga upaya untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi terhadap perempuan (Fakih dalam Sugihastuti, 2002: 63).

Feminisme seperti itu berkembang dalam bentuk feminisme demokrat yang tidak menentang perkawinan dan peranan perempuan dalam rumah tangga. Akan tetapi, mereka menganjurkan agar perempuan lebih dulu memikirkan pendidikan dan berusaha mandiri supaya tidak bodoh dan membuka peluang untuk ditindas. Pemikiran itu didukung oleh Selden (1989:157), yang menyatakan bahwa apa pun kesukaran yang ditemui oleh wanita, mereka mempunyai hak untuk menetapkan nilai mereka sendiri. Mereka berhak meneroka kesadaran mereka sendiri serta mengembangkan bentuk pernyataan yang baru, yang berhubungan dengan nilai dan kesadaran mereka.

Kritik sastra feminis dalam sastra dan budaya Indonesia pertama kali dibawa dan diperkenalkan ke Indonesia oleh A. Teeuw, yang juga telah membawa ke Indonesia teori-teori terdahulu, seperti strukturalisme, resepsi, dan interteks. Fadlillah (2004) menyatakan, Umar Junus telah melakukan studi kasus kritik feminis dengan teori tiga wacana, yaitu 1) perempuan, 2) wanita, dan 3) betina. Ketiga wacana itu dibutuhkan dalam bentuk horizontal. Dalam arti kata, laki-laki membutuhkan dimensi "keperempuanan", "wanita", dan "betina" dalam diri pasangannya. Kata 'betina" identik dengan dunia seksual, "perempuan" merupakan dimensi keibuan, sedangkan "wanita" hadir dalam dimensi kreativitas dunia karier.

Apa yang diungkapkan oleh Umar Junus tentang konsep perempuan menjadi dasar bagi penulis untuk menggunakan kata "perempuan", bukan "wanita". Makna perempuan, yang menurut Umar

5