Puncak. Ketika mendapati gadis cilik itu menggelandang, Putri memutuskan untuk membawanya ke Meliling dan mengangkatnya menjadi bagian dari keluarganya. Sueti sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri dan disekolahkan.
Kunjungan Putri ke rumah teman sekolahnya dulu dan melihat usaha kaus Sukseme, yang mengutamakan kekuatan kata-kata sebagai daya tariknya, akhirnya membuka pikiran Putri. Dibantu oleh Sueti, Putri berhasil membuka usaha kaus Sukseme. Dengan usahanya itu, Putri bisa memperkerjakan para pemuda Meliling, yang sebelumnya banyak yang tidak bekerja. Usahanya berkembang pesat dan berdampak baik bagi kehidupan Putri dan pemuda Meliling. Putri dan Sueti memutuskan untuk tinggal di Denpasar agar bisa mengawasi usaha pabrik kausnya dengan lebih baik. Secara ekonomi, kehidupan Putri terangkat. Mangku Puseh pun tidak perlu lagi susah-susah menghidupi keluarganya. Akan tetapi, ia tidak mau diajak tinggal di Denpasar karena harus menjaga pura dan penduduk desa.
Saat usaha kaus Sukseme sedang maju-majunya, Putri dihadapkan pada kenyataan pahit dengan meninggalnya Mangku Puseh. Laki-laki tua itu pergi dengan tenang setelah menyampaikan keinginan terakhirnya untuk melihat Putri berumah tangga. Sesuatu yang selama ini sering diajukannya kepada Putri dan selalu diabaikan oleh anak gadisnya itu. Mangku Puseh mengetahui dengan pasti bahwa Putri mencintai Ngurah Wikan dari Puri Puncak. Begitu juga sebaliknya. Akan tetapi, karena sama-sama menahan dan menjaga perasaan masing-masing, cinta itu tidak pernah terucapkan. Sebelum meninggal, Mangku Puseh menyarankan Putri untuk melamar Wikan dan mengajaknya untuk tinggal di Meliling sebagai suamiya.
Setelah kematian Mangku Puseh, usaha kaus Putri berkembang dengan pesat. Sueti pun tumbuh menjadi gadis remaja yang aktif dan energik, juga pintar. Bantuan Sueti dan jiwa dagang yang ada pada gadis remaja itulah yang membuat usaha kaus Sukseme bertambah maju. Putri sangat menyadari hal itu. Kalau tidak ada Sueti dengan ide cemerlangnya, ia tidak akan mampu menjalankan usaha itu sendirian.
Ketika mendapat kesempatan mengunjungi Jepang, dalam rangka membicarakan kerja sama dengan seorang pengusaha Jepang, Putri berkesempatan mengunjungi sebuah masyarakat komunal di Ittoen. Di sana Putri mempelajari banyak hal tentang kehidupan. Hal itu semakin mengayakan pandangan dan pikiran Putri tentang kehidupannya. Selama di Jepang, ia dilayani dengan baik. Ternyata, pengusaha Jepang itu menaruh hati pada Putri dan menginginkan Putri