Lompat ke isi

Halaman:Citra Perempuan dalam Novel Putu Wijaya Kritik Sastra Feminis.pdf/116

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

tidak lama dilakukannya. la memutuskan berhenti karena merasa tidak enak dengan guru lain yang tidak menyukai gaya Putri mengajar. Padahal, sebenarnya Putri telah memulai suatu cara yang tepat untuk memberi pelajaran, terutama pelajaran bahasa kepada siswa. Siswa menyukai cara mengajarnya. Akan tetapi, Putri tetap harus mengalah. Ia tidak ingin menjadi pengganggu bagi ketenteraman guru lain.

Setelah berhenti menjadi guru, Putri benar-benar merasa menjadi pengangguran sejati. Setiap hari ia disibukkan oleh urusan rumah. Ta tidak memikirkan lagi untuk bekerja. Apalagi, akhir-akhir ini kesehatan ibunya semakin menurun. Sejak kematian Made, ibunya benar-benar berubah. Ia seperti menyesali kejadian yang menimpa anak laki-laki satu-satunya itu. Jika saja tidak ada sepeda motor, tentu Made tidak akan mati. Kehilangan Made adalah kehilangan terbesar bagi ibu Putri,

Sejak ibunya sakit, otomatis Putrilah yang sehari-hari mengurus rumah. Ayahnya, Mangku Puseh, sibuk dengan urusan pura dan penduduk desa. Ia juga disibukkan dengan urusan mendidik Nyoman yang diharapkan akan menggantikannya, setelah Made pergi dan Putri pun telah menegaskan keinginannya tidak akan menggantikan Mangku Puseh.

Saat itulah rumah Putri dihebohkan oleh kehamilan Nyoman. Semua orang ribut. Seluruh Meliling membicarakan kejadian itu. Nyoman yang dipaksa untuk mengatakan siapa yang menghamilinya menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak mau mengatakan siapa yang menghamilinya. Namun, akhirnya, berkat usaha Putri dan juga bapaknya, laki-laki yang menghamili Nyoman datang dengan diam-diam dan membawa Nyoman lari dari rumah. Esoknya datanglah keluarga laki-laki, yang tidak lain adalah guru Nyoman sendiri, yaitu Made Sukada. Ia membawa Nyoman kawin lari untuk menghindari keputusan Mangku Puseh yang akan mengawinkannya dengan Sadra, saudara sepupunya. Sejak itu, Nyoman tinggal di rumah orang tua Made Sukada.

Tinggalluh Putri dengan Mangku Puseh di Meliling. Ibunya, yang sudah tidak bisa lagi dikendalikan emosinya karena penderitaannya harus dirawat di rumah sakit jiwa. Putri sangat sedih. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ibunya harus dirawat di sana karena di rumah, ibunya bisa saja melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki. Sampai kemudian akhirnya Men Putri mengakhiri hidupsya di rumah sakit jiwa.

Pada saat ibunya dirawat, Putri dipertemukan dengan Sueti, seorang gadis kecil yang juga pernah menjadi penyeroan di Puri

104