berpikir dan meninjau kembali. Sebagian besar lagi adalah benteng untuk mempertahankan supremasi kaum tua, mempertahakan supremasi kepentingan tertentu. Semuanya itu telah memanipulasi apa yang selama ini dikenal orang dengan adat dan tradisi.
Bali hari ini telah dijadikan semacam hutan lindung, sebuah cagar alam bagi bentuk kehidupan spirital di masa lalu yang menitikberatkan upacara fisik, bukan perjalanan rohani. Tontonan itu. memang sudah terjual laris dan menjadi bagian dari kehidupan yang membuat Bali melejit di seluruh peta pariwisata dunia. Akan tetapi, dampak dari semua itu adalah kemiskinan rakyat, terutama para perempuan. Mereka telah menjadi korban sepanjang hidupnya demi memelihara kesenangan para pelancong itu. Meskipun kemudian, setelah kurun waktu yang panjang, penderitaan yang ditorehkan itu menjadi hal yang biasa. Hidup tidak akan menjadi lengkap dan kebahagiaan menjadi tidak penuh tanpa siksaan itu. Pengorbanan pun menjadi tujuan, bukan lagi sebuah jalan bagi penebusan.
Keprihatinan tokoh dalam novel Putri, terutama Putri, adalah keprihatinan Putu Wijaya dalam menyikapi dan mengamati kehidupan manusia, khususnya perempuan. Sebagai orang Bali, ia menginginkan sebuah Bali yang tidak hanya nyaman ditempati oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Tradisi yang selama ini sering merugikan perempuan harus dikaji ulang. Adapun tradisi yang menguntungkan kaum perempuan harus dipertahankan, seperti tradisi nyentana, yang membolehkan seorang laki-laki masuk ke dalam keluarga istrinya dan menjadi bagian dari keluarga istrinya.
Jangan lagi ada pandangan yang menganggap bahwa tradisi nyentana itu sebagai sebuah kelemahan dari adat Bali. Tidak ada lagi anggapan bahwa laki-laki yang bersedia nyentana ke rumah istrinya adalah laki-laki yang hina, laki-laki yang tidak lagi merasakan malu karena harus mengikuti istrinya. Menurut Putu Wijaya, laki-laki yang berani melakukan nyentana adalah laki-laki yang hebat, laki-laki yang menghargai dan mengagung-agungkan perempuan, seperti Wikan, yang dengan sukarela menerima permintaan Putri untuk membawanya ke Meliling.
Apa yang telah diuraikan dan secara lengkap telah diungkapkan pada bab III memperlihatkan keberpihakan Putu Wijaya terhadap perempuan. Keprihatinan dan cita-citanya terhadap perempuan adalah keprihatinan yang didukung oleh kaum feminis. Dengan demikian, sikap, pandangan, dan pikiran Putu Wijaya terhadap perempuan merupakan sikap laki-laki, yang menjadi salah satu tujuan