diatas djembatan itu kereta-kemenangan dikusiri oleh lain orang selain Marhaen. Seberang djembatan itu djalan petjah djadi dua; satu kedunia kesengsaraan Marhaen, satu kedunia keselamatan Marhaen. Satu kedunia sama-ratap-sama-tangis, satu kedunia sama-rasa-sama rata. Tjelakalah Marhaen, bilamana kereta itu masuk keatas djalan jang pertama, menudju kealamnja kemodalan Indonesia dan kebordjuisan Indonesia! Oleh karena itu, Marhaen, awaslah, awas! Djagalah jang kereta-kemenangan itu nanti tetap didalam kendalianmu, djagalah jang politieke macht nanti djatuh didalam tanganmu, didalam tangan besimu, didalam tangan badjamu!
Kamu sekarang mendengar dari kanan-kiri sembojan, kerakjatan. Kaum radikal bersembojan kerakjatan, kaum reformis bersembo. jan kerakjatan, kaum bantji bersembojan kerakjatan, ja, kaum bordjuis dan ningratpun bersemhojan kerakjatan. Kamu sering mendengar sembojan demokrasi. Tetapi apakah satu-satunja demokrasi jang bagi Marhaen dan dari Marhaen? Apakah satu-satunja demokrasi jang oleh partai-pelopor harus dituliskan dengan aksara-aksara api diatas benderanja, sehingga terang bisa terbatja disaat terang, dan lebih terang lagi disaat rintangan-rintangan jang gelap gelita?" ........ ,,Marilah ingat akan bagaimana kadang-kadang palsunja sembojan demokrasi, jang tidak menolong Rakjat djelata, bakkan sebaliknja mengorbankan Rakjat djelata, membinasakan Rakjat djelata, sebagaimana telah terdjadi didalam revolusi Perantjis. Bolehkah demokrasi ini mendjadi impian kita? Tidak! dan sekali tidak! Ini tidak boleh mendjadi demokrasi jang harus kita tiru. Tidak boleh mendjadi demokrasi jang dengan aksara api harus dituliskan diatas bendera-bendera partai-pelopornja massa-aksi Indonesia. Sebab demokrasi jang begitu hanja demokrasi parlemen sadja, demokrasi politiek sadja. Demokrasi ekonomi, kerakjatan ekonomi, kesama-rasa-sama-rataan ekonomi tidak ada, tidak adapun bau-baunja sedikit djuga.”
…..,,Bagaimana demokrasi jang harus dituliskan diatas bendera kita, jang harus kita adakan diseberang djembatan-emas? Demokrasi itu haruslah demokrasi baru, demokrasi sedjati, demokrasi jang sebenar-benarnja pemerintahan Rakjat. Bukan demokrasi
a la Eropah dan Amerika jang lanja suatu „potret dari partainja"
47