Lompat ke isi

Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/53

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini telah diuji baca

kami orang toh harus menderita lagi kesengsaraan pendjara, hai apa boleh buat, moga-moga pergerakan seolah-olah mendapat wahju baru dan tenaga baru oleh karenanja, moga-moga Ibu Indonesia suka menerima nasib kami itu sebagai korban jang kami persembahkan diatas haribaannja, moga-moga Ibu Indonesia suka me- nerimanja sebagai bunga-bunga jang harum dan tjantik jang bisa dipakai menghiasi sanggul kondenja jang manis itu. Memang rohani kami tak adalah merasa masgul, rohani kami adalah berkata, bahwa segala apa jang kami tindakkan itu, adalah hanja kami punja kewadjiban, kami punja plicht.

Pemimpin India Bal Gangadhar Tilak jang besar itu, dimuka Mahkamah berkata: „Barangkali sudah kemauan Jang Maha Sutji, bahwa pergerakan jang kami pimpin itu akan lebih madju dengan kami punja kesengsaraan dan dengan kami punja kemerdekaan.

Perkataan Tilak ini kami djadikan perkataan kami sendiri. Djuga kami menjerahkan segenap raga dengan serela-relanja kepada tanah air dan bangsa, djuga kami menjerahkan segenap djiwa kepada Ibu Indonesia dengan seichlas-ichlasnja hati. Djuga kami adalah mengabdi kepada suatu tjita-tjita jang sutji dan luhur, djuga kami adalah berusaha ikut mengembalikan hak tanah-air dan bangsa atas peri-kehidupan jang merdeka. Tiga ratus tahun, ja walau seribu tahunpun, tidaklah bisa menghilangkan hak negeri Indonesia dan Rakjat Indonesia atas kemerdekaan itu. Untuk terlaksananja hak ini maka kami rela menderitakan segala kepahitan jang dituntutkan oleh tanah-air itu, rela menderitakan kesengsaraan jang dimintakan oleh Ibu Indonesia itu setiap waktu.

Memang tanah-air Indonesia, bangsa Indonesia, Ibu Indonesia, adalah mengharap dari semua putera-putera dan puteri-puterinja pengabdian jang demikian itu, penjerahan djiwa-raga jang tiada batas, pengorbanan diri walau jang sepahit-pahitnjapun kalau perlu, dengan hati jang sutji dan hati jang ichlas. Putera-putera dan puteri-puteri Indonesia haruslah merasa sajang, bahwa mereka untuk pengabdian ini, masing-masing hanja bisa menjerahkan satu badan sadja, satu roh sadja, satu njawa sadja, dan tidak lebih.

Sebab, tiada korban jang hilang terbuang, tiada korban jang sia-sia, “no sacrifice is wasted", begitulah Sir Oliver Lodge berkata.

43