82
dan bingoeng dari kadjadian pada itoe malam, sahingga tangisannja djadi lebi njaring dan berontak kaki dan tangan.
Komedian Sadi boedjoek itoe anak: „djangan menangis nanti orang dengar angkau poenja soeara, tetapi pada baba Corrasandi angkau tiada boleh poelang ; djangan angkau takoet kapadakoe, karna akoe ada bersadia akan melindoengkan kapadamoe.”
Demikanlah Sadi tinggal berdiri lama dan berpikir dimana dia nanti bawa semboeni ini anak, jang mana lepas satoe djam Zora Bey soeda serahkan padanja diam-diam, sahingga dia ini balik poelang ka Stamboel, tetapi dengan sakoenjoeng-koenjoeng Sadi dapat satoe pikiran jang baik, maka satoe messam timboel pada moekanja.
„Diam-diam anak! akoe bawa angkau pada satoe tampat dimana akoe tiada slempang padamoe, karna angkau nanti didjaga oleh tangan sa-orang parampoean bagoes dan di saijang serta disemboenikan dalam kamarnja,” berkata Sadi dengan perkataän jang lemah lemboet.
Komedian Sadi poen pikoel anak manis itoe jang agi menangis perlahan didalam dia poenja kaen salimoet, tetapi apa djoega jang Sadi berkata padanja tiada boleh menghiboerkan atau menjenangkan hati anak itoe adanja.
Bermoela pada waktoe tenga malam tatkala kapala