25
malam Toehan Allah soeda kasi kapadakoe. Maski moekamoe jang bagoes itoe ada tertoetoep, tetapi akoe nanti meliat salama-lamanja di moekakoe!” berkata toekang tambangan pran jang moeda itoo dengan persembahken tangaanja akan angkat kasi bangoen kapada REZIA, jang masi tingal berloetoet di hadapan misdjit, akoe mempenoehi pengharapanmoe dan tinggalken angkau sendiri, tetapi sabenarnja angkan tiada boleh tolak padakoe jang akan menaro tjinta padamoe!"
„Pergilah, akoe memoehoen itoe kapadamoe pergilah,” berkata REZIA dengan soeara jang lemas, ampir tiada kadengaran sambil tarik poelang dengan perlahan dan gemetar tangannja jang ketjil dari dalam tangannja SADI; komedian parampoean itoe berdjalan poelang dari antara tiang-tiang misdjit sahingga badjoenja jang pandjang terseret diatas batoe oebin di hadepan misdjit itoe djoega.
SADI memandang parampoewan itoe poenja djalan dengan tertjengang dan ilang ingatan.
Pada sakoenjoeng-koenjoeng djoega dia dapat rasa jang dia soeda djadi laen orang sedang dia ada tjinta birahi, dan apa djoega akan mendjadi dia misti mempoenjai pada Rezia anak piatoe, ia itoe ALMANSOR poenja anak perampoean sabidji-bidji.