211
tiada lepas pada poetra SALADIN, jang pelok dia poenja pinggang; REZIA poenja meratap dan minta ampoen tiada di dengar oleh satoe manoesia; dia dan poetra ketjil itoe soeda djato didalam tjilaka
dengan tiada
poenja penoeloeng. Sahdan orang toea itoe taro dalam itoe kamar satoe gendi dengan
aer,
rotti
trigoe dan sedikit korma,
komediannja itoe dia berangkat toeroen dengan dia poenja lantera. Adapoen kagelapan mengoeroeng REZIA dan anak
ketjil itoe melainkan
tjabjanja
satoe bintang ada
masoek dari tingkap lotteng teroes kadalam kamar itoe, seperti djoega bintang itoe mau mengihboerkan pada kadoea orang jang tjilaka itoe adanja. Komedian REZIA memandang kaåtas pada bintang • itoe dengan angkat tangannja kaloear tingkap sabingga aer bertjoetjeran dari pada kadoea matanja dengan berkata kapada bintang itoe :
„Ja mata Allah,
bintang jang bertjahja terang angkau meliat pengadoean dan kasoekaran, jang binasakan akoe dan poetra moeda, adoeh ! pindakanlah SADI, toean dan lakikoe kamari, sopaija dia melepaskan dan bebaskan kita orang ! Hantar kamari orang bangsawan itoe, dari siapa akoe soeda tertjere oleh satoe tjilaka jang amat heibat sopaija dia mendapat kita orang disini !
Liat,
hatikoe; akoe poenja djiwa ada terikat dengan tjinta padanja, dan sekarang akoe misti tertjere dari padanja!