„Itoe ada Soeltan poenja tau, akoe dapat parenta dan sekarang pakardjaänkoe soeda sampe. Marilab kasi soerat-serat itoe.”
„Soeda kaliwat waktoe angkau datang, itoe soerat tiada ada lagi di tangankoe, orang laen soeda bawa itoe lebi djau.”
„Itoe tiada mengapa”; menjant SADI; „kasi angkau poenja sendjata, kita pergi ka astana Soeltan.”
FATSAL JANG KA-ANAMBELAS.
Hoekoetan mati.
Bahoewa HASSAN dan ZORA-BEY soedalah djadi sia-sia menoenggoe datangnja SADI pada pinggir soengei Beglerbeg.
„Apa barangkali kita orang soeda kena djoesta oleh alamat jang bohong itoe;” berkata Hassan jang lagi doedoek di atas satoe tjabang poelioen dengan pegang kendali koedanja jang ada berdiri dekatoja.Maka ZORA-BEY ada berdiri disabelanja dengan tiada berenti memandang gerakoja aer soengei itoe dari djau.
„Sekarang akoe moelai kira jang ada satoe barang apa-apa dalam ini perkara;” berkata ZORA-BEY de-