10
SADI itoe berkata: „Toean poetri! didalam soengei jang djalan ka tangga astanamoe akoe tiada bisa masoek.”
Poetri ROCHANA poen berkata: „Bawa padakoe di sana, dimana kretta kretta tambangan dan kapal api dari Smyrna berlaboe. Apa angkau bisa naik disana kadarat?”
Maka menjaoetlah SADI: „Akoe nanti kardjakan sabagimana angkau poenja parenta!”
Komedian lagi poetri ROOHANA tanja kapada SADI: „Siapa angkau poenja nama?”
Menjaoetlah dia: „Akoe ini SADI, anaknja sa-orang boediman jang bernama RACHMAN!”
Poetri bertanja poela: „Apatah angkau poenja bapa masi ada?”
SADI poen menjaoet: „Akoe poenja bapa djadi bilal di misdjit Sulthan; dia soeda meninggal doenia adalah lima tahon lamanja, maka akoe ini djadi toekang prau tambangan sadja; dia meninggal di hadapankoe, toean poetri! sedang akoe masi ada kapingin akan beladjar kapandeannja”.
Maka berkatalah poetri: „Angkau tiada pantas mendjadi toekang prau maski bagimana pinter angkau medjalankan itoe pakerdjaän; barang siapa jang bisa melawan angin riboet ini, maka ia bisa djoega mendjalankan laen pakerdjaän dengan hati senang; datanglah laen hari pada astanakoe, SADI!