109
tinggal di Stamboel pada satoe sahaja (baboe) toes bernama HANIFA.”
Sadi tanja: „Siapa namanja itoe nona dan itoe anak?”
„Itoe nona nama REZIA anaknja ALMANSOR dan itoe anak jang ada padanja nama SALADIN; kita harap angkau tangkap itoe doea orang dan bawa kamari kita mau pareksa dia orang poenja perkara.”
Demikian SADI djadilah terkedjoet, sahingga rasanja ampir mau melawan dan boeka rasianja, tetapi dia tingal diam dan dengan sigra dia mendapat pikiran boeat lekas bri toeloengan apa jang boleh kapada toenangaɛnja dan lagi dalam hatinja dia berkata: „Biar akoe misti mati di boenoe, akoe
tiada nanti serahkan nona REZIA kadalam tangan moesoenja.”
Oleh bal itoe djoega SADI tahan hatinja dengan saboleh-boleh, karna dia tau tantoe jang REZIA dengan poetra SALADIN misti menanggoeng siksa dengan tiada berdosa djikalau dia orang datang dalam ini roema roema pandita jang tachajoel.
„Akoe tau apa sebab angkau berdiam baschi moeda!” berkata MANSOER EFFENDI; „angkau soeda kira nanti mendapat laen parenta jang berat, ini
pikoelan tiada sabarapa adanja sebab perkara satoe nona dan satoe anak ketjil sadja, tetapi akoe menjatakan padamoe jang ini pikoelan ada lebi besar