105
tang dekat maka berkatalah MOHAMAD BEY kapadanja: „Angkau ada poenja satoe orang berpangkat tinggi jang mengaroeniakan angkau padakoe dan akoe djoega soeka padamoe, karna angkau ada sa-orang tantara jang tjakap dan radjin maka akoe soeka angkau lekas dapat pangkat jang lebi tinggi.”
Angkau ini ada baschi dan akoe tiada bole berkata satoe apa laen dari padamoe melainkan jang angkau djaga baik dan radjin didalam pakerdjaän, sekarang ada waktoe jang baik boeat dapat pangkat jang lebi tinggi, maka akoe ingat padamoe, SADI!”
„Itoe ada baik dan oetama dari angkau, MOHAMAD BEY jang satiawan, katalah apa perboeatan atau apa pakardjaän jang akoe haroes mendjalankan boeat mendapat pangkat! Apa orang-orang goenoeng berboeat roesoe, dan akoe ini mau di soeroe kerdja diam itoe orang-orang peroesoean?”
„Dengar” Beij poetoesi SADI poenja bitjara; „apa pakerdjaän angkau misti kardjaken akoe tiada dapat tau, melainkan akoe tau oepahannja sadja! orang jang akoe pili dan mendjalani dengan gaga pikoelannja jang di taro atas poendaknja nanti dapat pangkat baschi, tetapi angkau nanti dapat pangkat Bey.
SADI poen bertanja: „Dimana akoe misti pergi tarima itoe parenta, toean jang satiawan MOHAMAD BEY? Maski misti mati tiada oeroeng akoe nanti djalankan.”