naga dan fikiran, menghantjurkan lawannja supaja dapat memegang kekuasaan dalam tangan sendiri; jang lain berusaha dengan segiat-giatnja melenjapkan musuhnja dari permukaan bumi dalam mempertahankan kekuasaan jang telah dimilikinja turun-temurun sedjak beratus tahun lamanja.
Bahwa didalam perdjuangan jang tidak mengenai damai ini, — perdjuangan jang akan menentukan hidup atau matinja sesuatu golongan jang bertempur —, terdjadi perbuatan 2 jang sangat melukai perasaan peri-kemanusiaan, perbuatan 2 jang tidak lajak dilakukan oleh suatu bangsa jang telah meningkat pada tingkat ketjerdasan jang tinggi, adalah suatu hal jang dapat didjangka akan terdjadi. Perasaan (sentiment) jang berdjangkit dalam dada pengikut 2 kedua golongan, diliputi oleh bentji dan dendam kesumat jang telah hidup dengan subur berpuluh tahun lamanja dan berpindah turun-temurun dari satu generatie ke generatie berikut. Factor ini menjebabkan pertempuran berlangsung setjara kedjam, dengan tidak mengindahkan larangan dan suruhan Tuhan Jang Mahakuasa.
Petempuran diantara kedua belah fihak berlangsung kurang lebih dua bulan lamanja. Segala sesuatu mengenai pentjaharian penduduk, terhenti dalam daerah pertempuran itu. Petani, nelajan, saudagar, menghentikan pekerdjaan masing 2 dan ikut serta dalam pertempuran, sehingga kerugian materieel dalam dua bulan itu tidak terhitung besarnja.
Pada permulaannja terlihat tanda-tanda jang meramalkan kemenangan fihak Ulebalang. Dalam keadaan jang demikian, Pemerintah di Kotaradja, didesak oleh Komite Nasional Daerah jang untuk sebahagian besar terdiri dari anggota 2 jang berpendirian tjondong kepada fihak Ulama, menjampaikan ultimatum kepada partij Ulebalang, menghentikan pertempuran, disertai dengan antjaman, bilamana tidak dipenuhi, mereka akan dianggap pemberontak terhadap Pemerintah Republiek Indonesia; hal mana mempunjai akibat, bahwa setiap tindakan, sekalipun kekerasan, akan dipergunakan untuk mengatasi kesulitan. Ultimatum ini tidak menghasilkan apa jang dikehendaki. Fihak jang diberikan ultimatum, jang berada dalam keadaan strategisch kuat, jang mengetahui, bahwa tentara resmi dalam soal persendjataan tidak lengkap dan jang seterusnja mungkin merasa diri sanggup mengalahkan lawan dalam waktu jang singkat, tidak mengatjuhkan ultimatum jang tersebut dan terus melakukan actie 2 nja dalam
pertempuran.
12